Gus Kikin Ajak Pengurus PBNU Satu Barisan Rawat Tradisi Pesantren

JAKARTA – Di tengah tantangan menjaga persatuan bangsa dan merawat kehidupan beragama yang harmonis, Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan pentingnya kembali memperkuat akar tradisinya. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengajak seluruh pengurus masa khidmah 2026–2031 menjadikan pesantren sebagai pijakan utama dalam menjalankan perjuangan organisasi.

Pesan itu ditegaskan Gus Kikin saat pelantikan pengurus PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026). Pemilihan pesantren sebagai lokasi pelantikan menjadi simbol bahwa masa depan NU tidak dapat dilepaskan dari lembaga pendidikan yang selama ini melahirkan ulama, membentuk karakter santri, dan mewariskan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.

“Pelantikan ini sengaja disiapkan secara sederhana dan dipilih berlokasi di pondok pesantren. Hal ini menjadi penanda komitmen kepengurusan masa khidmah ini untuk kembali ke akar tradisi, yaitu pesantren sebagai tempat lahirnya para ulama yang menjadi cikal bakal organisasi yang kita cintai ini,” ujar Gus Kikin.

Bagi NU, pesantren bukan sekadar bagian dari sejarah berdirinya organisasi. Tradisi keilmuan, keteladanan para kiai, pembinaan akhlak, dan kehidupan yang berlandaskan kebersamaan merupakan modal penting untuk menjaga kesinambungan gerakan organisasi di tengah perubahan zaman.

Karena itu, Gus Kikin berharap seluruh pengurus tidak hanya memahami pesantren sebagai simbol identitas NU, tetapi juga menjadikan nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya sebagai pedoman dalam menjalankan amanah organisasi. Penguatan tradisi perlu diwujudkan melalui kerja nyata, konsolidasi kepengurusan, serta pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga menghubungkan pelantikan tersebut dengan semangat peringatan Hari Santri Nasional 2026. Momentum ini, menurutnya, perlu menjadi penguat komitmen seluruh jajaran NU untuk menjaga warisan pesantren sekaligus berkontribusi bagi keutuhan Indonesia.

“Sejalan dengan tema peringatan Hari Santri 2026 dan prosesi pelantikan PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid ini, kami berharap seluruh pengurus Nahdlatul Ulama dapat bersatu dan berada dalam satu barisan untuk bersama-sama menguatkan akar tradisi pesantren serta menjaga keutuhan negeri yang kita cintai ini,” ungkapnya.

Pesan persatuan tersebut menegaskan bahwa penguatan tradisi dan konsolidasi organisasi merupakan dua hal yang saling berkaitan. Warisan pesantren akan sulit berkembang menjadi kekuatan sosial yang lebih luas apabila tidak ditopang kebersamaan dan kesatuan langkah para pengurus.

Sebaliknya, konsolidasi yang berakar pada nilai-nilai pesantren dapat memperkuat orientasi pengabdian NU. Pendidikan, keteladanan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat merupakan nilai yang dapat diterjemahkan ke dalam program-program organisasi.

Peran tersebut semakin relevan dalam kehidupan bangsa yang majemuk. Pesantren tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam membangun pemahaman keagamaan, tetapi juga berpotensi memperkuat sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan di tengah perbedaan.

Melalui tradisi pendidikan dan pembinaan akhlak, pesantren dapat menjadi ruang untuk menanamkan pentingnya persaudaraan, mencegah berkembangnya sikap intoleran, serta membangun kehidupan sosial yang damai. Dengan demikian, penguatan akar pesantren juga memiliki arti strategis bagi upaya menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Pelantikan pengurus PBNU tersebut turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah PBNU, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU Muhammad Nuh, serta Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid Lukman Hakim Hamid.

Kehadiran para tokoh NU, pejabat Kementerian Agama, dan pengasuh pesantren mencerminkan pentingnya hubungan antara kepemimpinan keagamaan, pendidikan pesantren, dan pengabdian kebangsaan. Ketiganya dapat menjadi kekuatan untuk menjaga relevansi NU dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Melalui kepengurusan masa khidmah 2026–2031, Gus Kikin berharap NU mampu melanjutkan kiprah organisasi tanpa kehilangan akar yang membentuk jati dirinya. Pesantren diharapkan tetap menjadi sumber nilai, tempat tumbuhnya tradisi keulamaan, sekaligus pijakan untuk memperkuat persaudaraan dan merawat keutuhan Indonesia.