Generasi Muda NU Didorong Jadi Penggerak Pancasila di Tengah Ancaman Polarisasi Digital

SLEMAN – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran strategis dalam menjaga Pancasila tetap hidup sebagai praktik sosial di tengah menguatnya polarisasi, intoleransi, dan derasnya arus disinformasi di ruang digital.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP, Irene Camelyn Sinaga, saat menjadi narasumber dalam bedah buku Menggali Api Pancasila karya Ngatawi Al-Zastrouw pada rangkaian Festival Dunia Santri di Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Jumat (10/7/2026).

Menurut Irene, Pancasila tidak cukup dipahami sebagai simbol negara atau sekadar materi hafalan. Nilai-nilainya harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang menghormati martabat manusia, menjunjung keadilan, serta melindungi kelompok rentan tanpa membedakan latar belakang.

“Keberpihakan terhadap kelompok minoritas bukanlah bentuk perlakuan istimewa, melainkan konsekuensi dari amanat Pancasila yang menempatkan kemanusiaan dan keadilan sebagai fondasi kehidupan berbangsa,” ujar Irene.

Ia menilai NU memiliki modal sejarah yang kuat dalam merawat harmoni kebangsaan melalui tradisi Islam Nusantara yang mengedepankan keseimbangan antara nilai keagamaan, kebudayaan, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Karena itu, Irene mengajak generasi muda NU untuk menjaga warisan tersebut sekaligus mengaktualisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat di tengah berbagai tantangan baru.

Menurutnya, ancaman terhadap persatuan bangsa kini tidak lagi hanya muncul dalam bentuk konflik fisik, tetapi juga melalui penyebaran ujaran kebencian, disinformasi, dan narasi yang memecah belah di media sosial.

Situasi tersebut, kata dia, menuntut generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga mampu memproduksi konten yang menebarkan nilai toleransi, persaudaraan, dan semangat kebangsaan.

“Keilmuan yang dimiliki santri hendaknya diterjemahkan menjadi kerja-kerja nyata yang menghadirkan kemaslahatan, memperjuangkan keadilan, dan memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman bangsa Indonesia,” katanya.

Bedah buku yang digelar BPIP itu menjadi ruang refleksi mengenai hubungan antara nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Melalui forum tersebut, kalangan pesantren diharapkan terus melahirkan kader-kader yang mampu menghidupkan Pancasila dalam praktik kehidupan sosial, bukan hanya dalam tataran konsep.

Irene menegaskan, masa depan persatuan Indonesia sangat bergantung pada hadirnya generasi muda yang mampu menjaga nilai kemanusiaan, keadilan sosial, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman.

“Di tangan generasi muda Nahdlatul Ulama, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, persatuan, dan penghormatan terhadap kelompok minoritas diharapkan terus tumbuh sebagai denyut kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.