Jakarta – Di tengah dinamika sosial yang kerap memicu potensi perpecahan, generasi muda Jabodetabek menunjukkan aksi nyata dalam merawat kebhinekaan dan membentengi bangsa dari bahaya intoleransi serta radikalisme. Lebih dari 500 pelajar tingkat SMA/SMK dari 53 sekolah tumpah ruah mengikuti ajang Ragamuda 2026 yang berlangsung pada 22–23 Agustus 2026 di Jakarta.
Kegiatan kolaboratif yang diinisiasi oleh SMA Kolese Kanisius, SMA Al-Izhar Pondok Labu, dan SMAK Pangudi Luhur Brawijaya ini menghadirkan perwakilan pelajar dari berbagai daerah, seperti SMA De Britto, SMA Michael, PIKA, Al-Mizan Majalengka, hingga SMAK Borong NTT. Inisiatif lintas agama dan budaya ini menjadi panggung edukasi kebangsaan yang positif, membuktikan bahwa keberagaman adalah pilar utama pembentukan karakter menuju Indonesia Emas 2045.
“Sebagai Ketua Umum Ragamuda 2026 dari SMA Kolese Kanisius, saya sangat menyadari bahwa tantangan terbesar generasi kami adalah menjaga persatuan di tengah maraknya potensi intoleransi dan polarisasi,” tegas Jonas di lokasi acara.
“Saya meyakini bahwa tugas utama generasi muda hari ini adalah mendorong kesadaran akan persaudaraan serta persatuan yang sejati pada bangsa ini. Merekalah yang nantinya bertanggung jawab penuh untuk mempertahankannya. Melalui Ragamuda 2026, saya ingin memfasilitasi ruang perjumpaan inklusif di mana siswa dari berbagai latar belakang agama dan budaya dapat bersatu, saling menghargai, serta menolak keras segala bentuk ajaran radikal yang ingin memecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” imbuhnya.
Semangat kebersamaan tersebut terpancar nyata saat ratusan peserta menggelar pawai kebudayaan memanfaatkan momentum Car Free Day (CFD) pada hari kedua pelaksanaan. Dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai pelosok Nusantara dan memboyong lambang Garudatama, para siswa menyusuri rute Menteng Raya menuju Tugu Tani hingga Patung Kuda.
Pawai tersebut menjadi simfoni indah yang memperlihatkan keharmonisan anak muda Indonesia di hadapan publik Jakarta, sekaligus mematahkan narasi-narasi eksklusif yang sering disebarkan oleh kelompok ekstremis.
“Saya menginisiasi kegiatan Ragamuda bersama kawan-kawan sejak tahun 2017 karena saya percaya bahwa perjumpaan langsung adalah obat paling manjur untuk mengikis prasangka intoleran. Melalui tema Gelora Persatuan Generasi Muda tahun ini, saya ingin memperkuat rasa toleransi dan saling mengenal antar siswa dari latar belakang pendidikan maupun agama yang berbeda secara nyata. Ketika kami duduk bersama, berdialog, dan berkreasi tanpa memandang sekat agama atau suku, saya yakin benih-benih radikalisme tidak akan pernah mendapat ruang untuk tumbuh di sanubari generasi penerus bangsa kita,” ujar Ailin selaku salah satu perwakilan dari SMA Al-Izhar Pondok Labu.
Rangkaian acara ditutup dengan panggung seni budaya dan konser musik Laras yang diselenggarakan secara megah oleh ketiga sekolah penyelenggara. Pertunjukan ini menjadi simbol keterbukaan, kolaborasi, dan rasa saling percaya antarkelompok.
“Saya menegaskan bahwa ajang yang kami selenggarakan ini membuktikan bahwa kegiatan pelajar bukan sekadar ajang popularitas, melainkan langkah nyata untuk Indonesia yang lebih baik melalui edukasi toleransi antarumat beragama dan suku,” ucap Marvelius Sitompul, Ketua Ragamuda dari SMAK Pangudi Luhur Brawijaya.
Ia mengakhiri penjelasannya dengan rasa syukur karena terdapat kebanggaan tersendiri melihat bagaimana seni dan budaya mampu menyatukan berbagai latar belakang yang sangat beragam, sekaligus menjadi perisai pertahanan ideologi yang kokoh dalam membendung pengaruh buruk terorisme maupun paham ekstremis kekerasan di kalangan remaja.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!