Gelombang Teror di Perbatasan Pakistan Sepanjang Mei 2026 Renggut 200 Nyawa

ISLAMABAD — Gelombang kekerasan kelompok militan terus memakan korban jiwa di Pakistan. Sepanjang 1 hingga 17 Mei 2026, tercatat sekitar 200 orang tewas akibat 57 insiden aksi teror yang berpusat di wilayah Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan. Ratusan korban jiwa tersebut meliputi 85 personel keamanan, 58 anggota militan, serta 47 warga sipil tak berdosa.

Dilansir dari Tribunnews.com yang mengutip media Stringer Asia pada Rabu (3/6/2026), eskalasi konflik berdarah ini didorong oleh aksi brutal kelompok separatis nasionalis Baloch di Balochistan dan kebangkitan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) di Khyber Pakhtunkhwa. Rentetan serangan dilakukan secara terstruktur melalui bom bunuh diri, penyerbuan kamp militer, hingga penyergapan konvoi pasukan keamanan.

Merespons tingginya angka kekerasan tersebut, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif secara tegas mengutuk tindakan para ekstremis yang terus mengeksploitasi isu ketimpangan wilayah demi mendapat dukungan lokal.

“Para pelaku kekerasan ini adalah musuh dari pertumbuhan provinsi,” tegas Shehbaz Sharif saat menyoroti maraknya aksi terorisme di Balochistan, mengutip laporan Tribunnews.com.

Beberapa serangan paling mematikan selama pertengahan Mei 2026 di antaranya adalah pembunuhan belasan personel militer di Distrik Kech, Dalbandin, dan Mastung yang didalangi oleh kelompok Baloch Liberation Army (BLA). Di Bajaur, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, sembilan militan TTP dan empat aparat keamanan tewas dalam bentrokan mematikan di sebuah kamp militer pada 14 Mei. Sebelumnya, pada 10 Mei, serangan bom bunuh diri ganda turut menghantam pos polisi di Bannu yang merenggut nyawa 15 aparat penegak hukum.

Pemerintah Pakistan saat ini tengah dihadapkan pada ancaman krisis keamanan yang krusial akibat kaburnya batas operasi antara militan Islamis dan kelompok separatis. Kedua faksi tersebut dinilai semakin masif memanfaatkan momentum pascakembalinya kekuasaan Taliban di Afghanistan pada 2021, yang dituding menjadi tempat perlindungan bagi para teroris untuk merencanakan serangan.

Menghadapi darurat nasional ini, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Haqvi memastikan bahwa negara tidak akan pernah menyerah pada tekanan teror.

“Kami ingin terus memajukan negara ini, dan memberantas segala ancaman terorisme,” ujar Mohsin Haqvi dalam sebuah konferensi pers di ibu kota Islamabad.Berdasarkan data Stringer Asia, tren kekerasan terorisme di Pakistan sejatinya terus meroket. Pada tahun 2025, negara ini mencatat 4.001 kematian, melonjak tajam 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kegagalan perundingan damai antara pemerintah dengan TTP pada November 2022 menjadi salah satu faktor penentu yang membuat stabilitas keamanan negara tersebut berada di titik paling rentan saat ini.