FKUB Sulteng Dorong Babinsa Jadi Penggerak Kerukunan Umat Beragama

Palu — Merawat kerukunan umat beragama tidak cukup hanya mengandalkan peran tokoh agama dan pemerintah. Aparat kewilayahan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, seperti Bintara Pembina Desa (Babinsa), juga memiliki posisi strategis dalam membangun toleransi dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin, menegaskan hal tersebut saat memberikan materi dalam kegiatan Penguatan Moderasi Beragama bagi puluhan Babinsa Kodim 1306/KP di Aula Kodim 1306/KP, Senin, September 2026. Kegiatan bertema “Merawat Harmoni Bangsa untuk Keutuhan NKRI” itu menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan kebangsaan dan membangun kehidupan sosial yang harmonis di wilayah Sulawesi Tengah.

Zainal mengatakan, upaya merawat harmoni bangsa harus dimulai dari lingkungan masyarakat paling bawah. Sebagai aparat teritorial yang dekat dengan warga, Babinsa diharapkan tidak hanya menjalankan tugas pembinaan wilayah, tetapi juga menjadi teladan dalam menerapkan sikap moderat, adil, dan toleran di tengah keberagaman.

“Kehadiran Anda adalah jaminan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Dalam pemaparannya, Zainal menjelaskan lima pilar dan strategi FKUB Sulawesi Tengah dalam merawat kerukunan, yakni menerima perbedaan, mengedepankan persamaan, membangun rasa saling percaya dan memahami, menerapkan moderasi beragama, serta mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis. Kelima pilar tersebut diharapkan menjadi landasan bagi Babinsa ketika berinteraksi dan membangun hubungan dengan warga dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya.

Pada pilar menerima perbedaan, Zainal mengingatkan bahwa keragaman merupakan ketentuan Ilahi yang perlu disikapi dengan sikap saling mengenal dan menghormati. Dalam praktiknya, Babinsa dapat membangun komunikasi dengan berbagai komunitas keagamaan, antara lain melalui kunjungan ke rumah-rumah ibadah lintas agama secara netral dan penuh penghormatan.

Sementara itu, pilar mengedepankan persamaan menempatkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih sayang sebagai titik temu di tengah perbedaan. Zainal mendorong Babinsa untuk terlibat dalam kegiatan bakti sosial, menghindari narasi yang mempertentangkan kelompok masyarakat, serta menjadikan Pancasila sebagai landasan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia juga menekankan pentingnya meneladani sikap damai Nabi Muhammad SAW, mencintai tanah air, menghormati sesama, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat menjadi pedoman bagi Babinsa dalam menjalankan peran sosial sekaligus memperkuat hubungan yang saling menghargai di tengah masyarakat.

Dalam konteks pencegahan, Babinsa juga diharapkan mampu mengenali secara cermat potensi berkembangnya paham radikal maupun gangguan terhadap kerukunan. Namun, upaya deteksi dini perlu dilakukan secara terukur, berbasis informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta tetap menghormati hak dan privasi masyarakat agar tidak menimbulkan prasangka atau stigma terhadap kelompok tertentu.

Untuk mendukung langkah tersebut, Zainal menilai diperlukan sistem pelaporan dan deteksi dini yang berbasis data serta pemetaan kondisi kewilayahan. Monitoring dan evaluasi terhadap indikator toleransi dan situasi sosial-keagamaan juga perlu dilakukan secara berkala, sehingga potensi persoalan dapat dikenali sejak awal dan ditangani melalui pendekatan yang tepat.

Penguatan kapasitas Babinsa, lanjut Zainal, perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan moderasi beragama. Upaya tersebut dapat dilengkapi dengan penyusunan modul saku lima pilar kerukunan, kunjungan lintas iman, dialog bersama tokoh agama, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Berbagai kegiatan itu diharapkan memperluas pemahaman sekaligus membangun kepercayaan antara aparat kewilayahan dan masyarakat.

Kegiatan penguatan moderasi beragama tersebut merupakan bagian dari kerja sama FKUB Sulawesi Tengah dan Korem 132/Tadulako yang telah terjalin selama beberapa tahun. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan kerukunan masyarakat di Sulawesi Tengah melalui keterlibatan berbagai unsur.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Tengah, Rachman Ansyari, sebagai narasumber. Hadir pula Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam XXIII/Palaka Wira, Kolonel Inf. OO Syahroja.

Melalui penguatan kapasitas dan kerja sama lintas lembaga, Babinsa diharapkan semakin mampu membangun kedekatan dengan masyarakat serta menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Harmoni sosial tidak hanya ditopang oleh kewaspadaan terhadap potensi gangguan, tetapi juga oleh komunikasi, kepercayaan, dan penghormatan terhadap keberagaman yang terus dirawat bersama.