TANJUNGPINANG – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kepulauan Riau (Kepri) merumuskan slogan “Rukun Budaye Kite” sebagai upaya memperkuat kerukunan antarumat beragama melalui pendekatan kearifan lokal. Slogan tersebut diharapkan menjadi identitas bersama masyarakat Kepri dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya.
Perumusan slogan itu dilakukan melalui workshop bertajuk Rukun Budaya Kita di Tanjungpinang, Rabu (21/10). Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi keagamaan, pemerintah, hingga kalangan akademisi.
Ketua Panitia, Abu Sufyan, mengatakan workshop tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dari bidang kebijakan publik, sejarah, dan akademisi. Pelibatan berbagai perspektif itu bertujuan merumuskan slogan yang sesuai dengan karakter serta identitas masyarakat Kepulauan Riau.
“Kita juga menghadirkan pemateri dari ahli kebijakan publik, sejarawan, hingga akademisi untuk merumuskan slogan tersebut,” kata Abu Sufyan, Rabu (21/10).
Menurut Abu Sufyan, “Rukun Budaye Kite” tidak hanya ditujukan kepada kelompok agama tertentu, tetapi menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kerukunan. Perbedaan latar belakang sosial maupun budaya, kata dia, tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun kehidupan yang harmonis.
“Apa pun agama kita, profesi kita, budaya kita, suku kita, kita bertanggung jawab untuk menjaga kerukunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, workshop tersebut tidak berhenti pada perumusan slogan. Para peserta juga membahas bagaimana nilai-nilai kerukunan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pemerintahan dan masyarakat.
Dengan demikian, slogan “Rukun Budaye Kite” diharapkan tidak sekadar menjadi ungkapan atau simbol, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang mendorong masyarakat untuk menghormati perbedaan, memperkuat solidaritas, dan menjaga hubungan baik antarumat beragama.
Abu Sufyan menambahkan, inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya mempertahankan capaian kerukunan umat beragama di Kepulauan Riau. Ia menyebut Kepri pernah menempati peringkat pertama nasional pada 2023. Sementara pada 2025, provinsi tersebut berada di peringkat ketujuh, tetapi masih termasuk dalam kategori tinggi.
“Tahun 2023 kita posisi pertama se-Indonesia, tahun 2025 posisi ke-7. Namun, masih masuk dalam kategori tinggi,” katanya.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyambut positif gerakan yang digagas FKUB tersebut. Menurutnya, upaya merawat kerukunan menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.
Ansar mengatakan pemerintah daerah terus berupaya mempertahankan kerukunan antarumat beragama. Ia juga menyinggung posisi Kepri yang berada di peringkat ketujuh nasional pada 2025.
“Kepri juga konsisten dalam hal merawat kerukunan, saat ini Kepri tertinggi nomor 7,” ujar Ansar.
Melalui slogan “Rukun Budaye Kite”, FKUB Kepri berharap kearifan lokal dapat menjadi landasan untuk memperkuat toleransi dan kebersamaan. Pendekatan budaya dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kerukunan sebagai tanggung jawab seluruh warga, bukan hanya pemerintah atau organisasi keagamaan. Di tengah masyarakat yang beragam, kerukunan membutuhkan komitmen bersama yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai. Dengan semangat tersebut, “Rukun Budaye Kite” diharapkan menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan bagian dari identitas masyarakat Kepulauan Riau yang perlu dijaga bersama.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!