Semarang — Menjelang peringatan Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), para tokoh agama di Jawa Tengah yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi yang aman, damai, rukun, dan harmonis antarumat beragama.
Ajakan tersebut dituangkan dalam imbauan bersama yang dirumuskan dalam empat poin utama dan disampaikan dalam acara Dialog Kebangsaan Menjaga Kondusifitas Jelang Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, yang digelar di Hotel NEO, Jalan S. Parman, Gajahmungkur, Semarang, Kamis (18/12). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Polda Jawa Tengah dan FKUB Provinsi Jawa Tengah.
Moderator dialog, Dr. KH Multazam Ahmad, menegaskan pentingnya menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama, khususnya menjelang Nataru yang identik dengan meningkatnya aktivitas sosial, keagamaan, dan mobilitas masyarakat. Menurutnya, keharmonisan merupakan kunci utama terciptanya situasi yang kondusif di tengah keberagaman masyarakat Jawa Tengah.
Imbauan FKUB dibacakan secara bergantian oleh Ketua FKUB Jawa Tengah Prof. Dr. Imam Yahya, M.Ag bersama Kepala Bagian Pembinaan Operasi (Kabagbinops) Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Jateng AKBP Wawan Purwanto, S.H., M.H., serta didampingi perwakilan enam tokoh agama di Jawa Tengah.
Dalam imbauan tersebut, FKUB mengajak masyarakat untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan agama, adat istiadat, tradisi, serta budaya yang hidup di tengah masyarakat. FKUB juga mengingatkan pentingnya menghindari segala bentuk sikap dan perilaku yang berpotensi menimbulkan gangguan ketenteraman, konflik sosial, maupun disharmonisasi antarumat beragama.
“Keempat, mari bersama-sama mengawal jalannya perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 agar berlangsung damai dan bahagia untuk semua umat,” ujar Prof. Imam Yahya saat membacakan imbauan.
Dialog kebangsaan ini diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang agama. Selain Prof. Imam Yahya, narasumber utama lainnya adalah AKBP Wawan Purwanto yang memaparkan kesiapan Polda Jawa Tengah dalam pengamanan Nataru 2026 di seluruh wilayah provinsi.
AKBP Wawan menjelaskan bahwa jajaran kepolisian telah menetapkan sejumlah objek prioritas yang menjadi fokus pengamanan sebelum, saat, dan setelah perayaan Nataru. Pengamanan difokuskan pada tempat-tempat ibadah, pusat keramaian, serta jalur mobilitas masyarakat yang dinilai rawan.
“Pengamanan dilakukan melalui sinergi antara aparat kepolisian, petugas pengamanan gereja, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai pegiat pengamanan,” kata Wawan. Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pihak-pihak yang berniat mengganggu perayaan Nataru, termasuk melalui ujaran kebencian, provokasi, dan intoleransi yang mengatasnamakan fanatisme agama.
Ia menambahkan, pengamanan Nataru tidak hanya berfokus pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada pelayanan terbaik bagi umat yang menjalankan ibadah Natal, para pemudik, serta wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi di Jawa Tengah.
“Kehadiran Polri bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi seluruh masyarakat,” tegasnya.
Selain pengamanan fisik, Polda Jawa Tengah juga mengedepankan langkah-langkah preventif melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama libur Natal dan Tahun Baru. Koordinasi lintas sektor, optimalisasi peran masyarakat, serta peningkatan kewaspadaan lingkungan menjadi bagian penting dari strategi pengamanan tersebut.
Sementara itu, Prof. Imam Yahya menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas fondasi keragaman agama, budaya, dan tradisi yang hidup berdampingan dalam satu ruang sosial. Menurutnya, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sumber kekuatan untuk membangun solidaritas, gotong royong, dan kohesi sosial.
“Nataru membuka ruang kerja sama sosial antarumat beragama dalam menjaga keamanan dan kenyamanan ibadah,” ujarnya. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang baik, keragaman juga berpotensi memicu gesekan akibat provokasi, penyebaran hoaks, serta politisasi identitas.
Prof. Imam juga menegaskan peran strategis aparat negara dalam menjamin rasa aman bagi masyarakat. Di sisi lain, tokoh agama diharapkan mampu menjadi teladan dalam praktik toleransi beragama melalui sikap adil, moderat, penuh cinta kasih, serta menolak segala bentuk ekstremisme dan intoleransi.
“Tokoh agama dapat berperan sebagai mediator dan pemberi nasihat yang menyejukkan, sehingga kerukunan antarumat beragama dapat terus terjaga,” katanya.
Dialog kebangsaan ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh enam tokoh agama, yakni KH Dr. Andi Purwono, M.Si (Islam), Pdt. Yosua Werdaya (Kristen), Sr. Krista (Katolik), WS Andi Tjiok (Konghucu), Pandita Tri Wahyu Widodo (Buddha), dan I Made A. M. PH (Hindu), sebagai simbol kuatnya persatuan dan kebersamaan dalam keberagaman.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!