FKPT Maluku: Komunikasi Hangat dengan Anak Jadi Benteng Cegah Radikalisme

FKPT Maluku: Komunikasi Hangat dengan Anak Jadi Benteng Cegah Radikalisme

AMBON – Pencegahan radikalisme dan terorisme pada anak tidak cukup mengandalkan pengawasan terhadap aktivitas di internet. Kedekatan emosional, komunikasi terbuka, dan rasa aman di lingkungan keluarga juga menjadi faktor penting agar anak tidak mudah terpengaruh ajakan kelompok intoleran maupun narasi yang membenarkan kekerasan.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku, Ruslan Basry Afandi, menegaskan bahwa keluarga memiliki peran mendasar dalam membangun ketahanan anak sejak dini. Rumah perlu menjadi tempat bagi anak untuk bercerita, menyampaikan persoalan, dan memperoleh dukungan tanpa takut dihakimi.

“Rumah (keluarga) menjadi benteng pertama sebagai penangkal atas ancaman berbau kekerasan terhadap anak-anak kita,” kata Ruslan saat membuka kegiatan bertema “Keluarga Tangguh, Generasi Utuh: Pendampingan Psikologi dalam Memperkuat Ketahanan Keluarga Menangkal Paham Terorisme”, Selasa (20/10/2026).

Menurut Ruslan, perkembangan teknologi digital membuat tantangan perlindungan anak semakin kompleks. Paparan informasi melalui gawai dan media sosial dapat berlangsung setiap hari, sementara pesan intoleran dan paham ekstrem tidak selalu disampaikan secara terang-terangan. Dalam kondisi tertentu, pendekatan yang memanfaatkan kebutuhan emosional dan keinginan untuk diterima juga dapat menjadi pintu masuk bagi pengaruh negatif.

Anak-anak dan remaja yang sedang menjalani proses pencarian jati diri membutuhkan lingkungan yang memberikan rasa aman, perhatian, dan penerimaan. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, mereka dapat mencari dukungan di luar keluarga tanpa selalu mampu menilai apakah lingkungan atau kelompok yang mereka temui membawa pengaruh positif.

Karena itu, Ruslan mengingatkan orang tua agar tidak hanya berfokus pada pembatasan penggunaan perangkat digital, tetapi juga membangun hubungan yang memungkinkan anak terbuka mengenai pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi.

“Kita perlu membangun terus komunikasi yang hangat dan empatik sehingga anak kita merasa nyaman bercerita tentang apa pun kepada orang tuanya,” ujarnya.

Komunikasi yang baik memungkinkan orang tua memahami perubahan emosi dan perilaku anak secara lebih dini. Pendekatan ini juga membantu keluarga membangun kepercayaan sehingga anak memiliki tempat untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari pertimbangan ketika menjumpai informasi atau ajakan yang meragukan di internet.

Ruslan menjelaskan, kegiatan pendampingan psikologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggurui orang tua maupun tenaga pendidik. Sebaliknya, forum ini dirancang untuk memberikan pemahaman dan panduan praktis dalam memperkuat ketahanan keluarga serta mengenali kerentanan anak sejak dini.

“Ketika keluarga kita tangguh, maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang utuh, yakni generasi yang cerdas, berkarakter, mencintai kedamaian, dan bangga akan keutuhan bangsa, juga untuk kedamaian di Bumi Raja-Raja di Maluku yang kita cintai,” jelas Ruslan.

Kegiatan yang diselenggarakan FKPT Maluku dengan fasilitasi Subdirektorat Penguatan Kapasitas Lembaga dan Literasi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom. Pesertanya meliputi siswa, orang tua murid, guru bimbingan konseling (BK), dan anggota komite sekolah.

Pendekatan psikologis menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena pencegahan ekstremisme tidak hanya berkaitan dengan pengenalan ideologi, tetapi juga pemahaman terhadap kebutuhan perkembangan anak, kondisi emosional, dan lingkungan sosialnya.

Kegiatan tersebut menghadirkan psikolog sekaligus Ketua Lembaga Eureka Psychology, Meity Arianty, sebagai pembicara dari pusat. Narasumber lainnya adalah perwakilan Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Eldi Bisma Putra Mahendra, serta Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Maluku, Rizka Mulyani Sangadji.

Diskusi juga melibatkan jajaran pengurus FKPT Maluku dan didampingi Sekretaris FKPT Maluku, Firda Bin Yusuf. Berbagai unsur tersebut dilibatkan untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kolaborasi keluarga, sekolah, dan pemangku kepentingan dalam melindungi anak dari pengaruh ekstremisme dan kekerasan. Melalui penguatan ketahanan keluarga dan pendampingan psikologis, FKPT Maluku berharap upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih dini, humanis, dan berkelanjutan. Keluarga yang terbuka, sekolah yang peduli, serta lingkungan masyarakat yang mendukung diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi yang sehat secara emosional, menghargai keberagaman, dan mencintai perdamaian.