Eks-Simpatisan ISIS dan Anak-anaknya Bersiap Kembali ke Australia

SYDNEY – Empat wanita eks-simpatisan ISIS, atau yang kerap dijuluki “ISIS brides”, bersama sembilan anak mereka dilaporkan tengah bersiap untuk kembali ke Australia.

Dilansir dari 7NEWS Australia pada 27 April 2026, rombongan tersebut terdiri dari tiga wanita asal Melbourne dan satu wanita asal Sydney. Mereka telah meninggalkan kamp pengungsi Al Roj di Suriah pada akhir pekan lalu. Saat ini, kelompok tersebut diketahui berada di Damaskus untuk menunggu penerbangan menuju Australia setelah mereka berhasil memesan tiket pesawat.

Kepulangan mandiri ini dapat terjadi berkat paspor sementara yang mereka dapatkan pada awal tahun ini. Berdasarkan hukum yang berlaku, Pemerintah Australia memang diwajibkan untuk menerbitkan paspor bagi warga negaranya. Kendati demikian, hukum Australia juga menetapkan bahwa bepergian ke luar negeri untuk membantu kelompok bersenjata asing adalah tindakan ilegal, sehingga para wanita ini berpotensi langsung menghadapi tuntutan hukum setibanya di Australia.

Menanggapi situasi ini, Wakil Perdana Menteri Australia, Richard Marles, menegaskan bahwa pemerintah tidak secara aktif membawa mereka pulang. “Pemerintah Australia tidak memulangkan (repatriating) orang-orang ini,” tegas Marles. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tidak ada campur tangan pendanaan maupun logistik dari negara dalam proses kepulangan mereka. Saat ini, badan keamanan dan intelijen Australia tengah mengawasi pergerakan kelompok tersebut secara ketat.

Namun kepulangan ini mendapatkan perdebatan di Australia. Desakan keras datang dari Anggota Parlemen (MP), Barnaby Joyce. Ia mendesak pemerintah untuk segera menerapkan Perintah Pengecualian Sementara (Temporary Exclusion Orders) guna memblokir kepulangan mereka. Namun, penerapan larangan tersebut tidaklah mudah. Ambang batas hukum (legal threshold) untuk memberlakukan status itu sangat tinggi; pemerintah harus mampu membuktikan bahwa keberadaan mereka merupakan ancaman langsung maupun tidak langsung bagi keamanan Australia.

Sementara keempat wanita ini bersiap untuk kembali, sebagian besar eks-simpatisan ISIS beserta anak-anak mereka asal Australia lainnya dilaporkan masih tertahan di kamp pengungsi di Suriah.