Madiun – Suasana aula SMK PGRI 1 Mejayan dipenuhi semangat kebangsaan saat puluhan siswa serentak meneriakkan komitmen menolak radikalisme. “Madiun Bersahaja: Stop Radikalisme, Mulai dari Kita! Kabupaten Madiun Aman, Pelajar Nyaman, Masa Depan Cemerlang, NKRI Harga Mati!” pekik para siswa dalam kegiatan fasilitasi pencegahan paham radikalisme, Rabu (22/4/2026).
Kegiatan tersebut diinisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Madiun bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Jawa Timur Posda Kabupaten Madiun. Puluhan pelajar dan tenaga pendidik mengikuti agenda yang bertujuan memperkuat ketahanan ideologi di lingkungan sekolah, khususnya menghadapi tantangan era digital.
Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Madiun, Fajar Syahrudin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah preventif untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal yang menyasar pelajar. Menurutnya, anak usia sekolah menjadi target karena aktif di media digital dan mudah terpengaruh narasi tertentu.
“Ini adalah langkah preventif untuk memutus rantai radikalisme yang berpotensi memecah belah bangsa di lingkungan pendidikan. Guru dan siswa harus mampu mengidentifikasi benih-benih tersebut sejak dini,” ujar Fajar.
Ia menambahkan, koordinasi di tingkat provinsi menunjukkan adanya peningkatan penyebaran paham ekstrem melalui kanal digital secara terselubung. Oleh karena itu, sekolah dinilai perlu memperkuat literasi kebangsaan dan kewaspadaan terhadap konten yang berpotensi memecah belah.
Sejalan dengan itu, Kaposda BIN Kabupaten Madiun Andri Setyawan menyoroti pergeseran pola penyebaran radikalisme dari metode konvensional ke ruang digital. Ia menyebut radikalisme modern sering tampil dalam bentuk narasi simpatik, seperti motivasi semu dan ajakan eksklusif yang menyasar anak muda.
“Waspadai grup percakapan tertutup di WhatsApp atau Telegram yang membatasi dialog terbuka. Jadikan Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi etika dalam menyaring informasi di media sosial agar tidak mudah terprovokasi,” kata Andri.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan testimoni dari Erfin Wibowo, eks narapidana terorisme asal Madiun. Dalam pemaparannya, ia membagikan pengalaman saat terpapar paham radikal serta proses yang dialami selama menjalani masa pidana.
Erfin menjelaskan bahwa proses radikalisasi sering dimulai dari manipulasi empati yang kemudian diarahkan menjadi kemarahan destruktif. Ia juga menceritakan pengalaman saat ditempatkan di Lapas Nusakambangan dengan sistem pengamanan tinggi.
“Di sana berlaku sistem one man one cell. Saya berada di sel sempit berukuran 2×1,5 meter dengan pengawasan CCTV 24 jam penuh. Isolasi total ini menjadi titik balik saya untuk berefleksi dan kembali setia kepada NKRI,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SMK PGRI 1 Mejayan Sampun Hadam menyambut baik kegiatan tersebut sebagai penguatan karakter kebangsaan bagi siswa. Ia menilai lingkungan sekolah yang heterogen justru menjadi modal untuk membangun toleransi dan persatuan.
Menurutnya, selain membentengi siswa dari paham radikal, sekolah juga fokus menyiapkan lulusan yang kompetitif dan mampu bersaing di tingkat global. “Kami ingin siswa tidak hanya kuat secara ideologi, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja internasional,” ujarnya.
Kegiatan yang dimoderatori akademisi Anjar Kusisiyanah ini berlangsung interaktif dengan sesi diskusi antara siswa dan narasumber. Acara kemudian ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga kondusivitas wilayah serta memperkuat semangat kebangsaan di kalangan pelajar.
Melalui sinergi Bakesbangpol, BIN, dan dunia pendidikan, Pemerintah Kabupaten Madiun berharap upaya pencegahan radikalisme dapat dilakukan sejak dini. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman sekaligus menyiapkan generasi muda yang cinta tanah air.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!