Edukasi Toleransi Sejak Dini, Mahasiswi UPNVJT Ajak Siswa SMK Pahami Moderasi Beragama

Surabaya – Upaya memperkuat karakter pelajar di tengah keberagaman terus dilakukan berbagai pihak. Kali ini, sepuluh mahasiswi dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menghadirkan pendekatan kreatif untuk mengenalkan nilai moderasi beragama kepada siswa sekolah menengah.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat, para mahasiswi tersebut menggelar penyuluhan bertema “Moderasi Beragama di Sekolah Menengah” di SMK Al-Islah Surabaya. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas X, dengan fokus membangun pemahaman beragama yang seimbang, toleran, dan tetap menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah.

Tidak sekadar ceramah, kegiatan dirancang interaktif agar materi lebih mudah dipahami. Diskusi terbuka hingga permainan peran (role play) menjadi metode utama untuk mengajak siswa terlibat aktif. Lewat pendekatan ini, siswa diajak memahami bahwa moderasi beragama bukan hanya konsep, tetapi sikap yang harus diwujudkan dalam pergaulan sehari-hari.

Salah satu pemateri, Ragil Cantika Kinanti Setya Budi, menekankan pentingnya menghindari sikap ekstrem dalam beragama. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali pemahaman bahwa beragama secara moderat berarti menjaga keseimbangan, tidak mudah menghakimi, serta tetap memelihara persaudaraan.

Dosen pembimbing pengabdian, Saifuddin Zuhri, turut menegaskan bahwa penanaman nilai moderasi sebaiknya dimulai sejak usia sekolah agar menjadi fondasi karakter hingga dewasa.

Suasana semakin hidup saat sesi role play bertema “Cara Menghadapi Teman yang Malas Beribadah” digelar. Para siswa mengambil kartu karakter dengan peran berbeda, mulai dari guru hingga teman sebaya. Dari simulasi tersebut, mereka belajar menyampaikan nasihat dengan pendekatan yang lembut dan empatik tanpa merusak hubungan pertemanan.

Kepala sekolah, Arif Muttaqin, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi kampus dan sekolah seperti ini efektif membentuk pelajar yang lebih bijak dalam beragama sekaligus matang secara sosial.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan komitmen siswa untuk menerapkan sikap moderat dalam kehidupan sehari-hari. Baik mahasiswa maupun pihak sekolah berharap sinergi serupa terus berlanjut demi memperkuat karakter generasi muda di tengah masyarakat yang majemuk.