Duta Damai BNPT Jatim Siap Perkuat Implementasi RAD PE Melalui Edukasi Sekolah dan Literasi Digital

Surabaya – Penyusunan Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAD PE) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026–2029 terus dimatangkan melalui rapat koordinasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di Surabaya, Selasa (28/7). Rapat dipimpin oleh Doni Nugroho Susanto, Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur. 

Dalam arahannya, Doni menegaskan bahwa penyusunan RAD PE membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, aparat keamanan, akademisi, tokoh agama, media, organisasi kemasyarakatan, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya agar implementasi program pencegahan ekstremisme dapat berjalan secara efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, Duta Damai Dunia Maya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Regional Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk memperkuat implementasi RAD PE melalui berbagai program pencegahan yang selama ini telah dilaksanakan. Fokus utama Duta Damai adalah membangun ketahanan generasi muda melalui edukasi di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, dan ruang digital sebagai langkah preventif menghadapi ancaman penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan.

Ketua Duta Damai BNPT Jawa Timur, Achmad Reza Rafsanjani, menyampaikan bahwa Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) secara eksplisit mengusung pendekatan whole-of-government dan whole-of-society. Artinya, pencegahan ekstremisme bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, media, komunitas, hingga generasi muda sebagai aktor utama dalam membangun ketahanan sosial.

“Dalam implementasi RAD PE terdapat sembilan tema yang sebagian besar memiliki relevansi dengan program-program yang telah dijalankan Duta Damai BNPT Jawa Timur. Program seperti Sekolah Damai, Duta Damai BNPT Jatim Goes to Campus, edukasi literasi digital, kegiatan NgoPeace baik secara luring maupun daring, hingga produksi konten kontra narasi dan narasi alternatif merupakan bentuk nyata pencegahan yang selama ini kami lakukan bersama masyarakat,” ujar Reza.

Menurutnya, Duta Damai BNPT Jawa Timur selama ini memfokuskan upaya pencegahan pada penguatan ketahanan satuan pendidikan. Melalui program Sekolah Damai dan Duta Damai Goes to Campus, para pelajar dan mahasiswa diberikan pemahaman mengenai bahaya bullying, intoleransi, radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, serta pentingnya membangun budaya damai di lingkungan pendidikan.

Selain itu, Reza menegaskan bahwa ruang digital saat ini menjadi salah satu media yang paling sering dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk melakukan propaganda, penyebaran narasi kebencian, hingga rekrutmen anggota baru. Karena itu, penguatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memverifikasi informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengandung provokasi maupun ajakan menuju kekerasan.

“Pencegahan harus dimulai dari hulu. Sekolah dan kampus merupakan ruang strategis untuk membangun karakter generasi muda. Di sisi lain, ruang digital harus dipenuhi dengan narasi positif karena saat ini menjadi arena utama penyebaran propaganda dan proses rekrutmen kelompok ekstrem. Melalui edukasi literasi digital, kontra narasi, dan narasi alternatif, kami ingin memperkuat daya tangkal generasi muda agar tidak mudah terpapar ideologi kekerasan,” tegas Reza.

Ia menambahkan bahwa berbagai program tersebut telah dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur dengan melibatkan sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas, hingga masyarakat umum. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi best practice yang diadopsi dalam implementasi RAD PE di tingkat provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.

Melalui keterlibatan aktif dalam penyusunan RAD PE, Duta Damai BNPT Jawa Timur berharap kolaborasi antar pemangku kepentingan semakin kuat sehingga upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada penguatan ketahanan masyarakat melalui pendidikan, literasi digital, dan partisipasi aktif komunitas. Dengan demikian, Jawa Timur diharapkan mampu membangun ekosistem yang tangguh dalam menghadapi ancaman ekstremisme berbasis kekerasan, baik di ruang nyata maupun di ruang digital.