TUBAN — Memasuki era digital, kemampuan menggunakan teknologi secara bijak menjadi bekal penting bagi generasi muda. Pesan tersebut menjadi salah satu fokus Duta Damai BNPT Jawa Timur saat memberikan edukasi kepada peserta didik Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Tuban, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan menghadirkan materi tentang penggunaan internet dan media sosial yang sehat, pengawasan penggunaan gawai, serta pencegahan bullying, intoleransi, dan kekerasan. Melalui kegiatan ini, peserta didik tidak hanya diajak memahami manfaat teknologi, tetapi juga mengenali berbagai risiko yang dapat muncul apabila penggunaannya tidak dilakukan secara bijak. Edukasi tersebut diharapkan menjadi bekal awal bagi para siswa dalam membangun kebiasaan digital yang sehat sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
Pada sesi pertama, Duta Damai BNPT Jawa Timur memberikan materi Penggunaan Internet dan Sosial Media yang Sehat. Para siswa diajak memahami bahwa internet dan media sosial dapat menjadi sarana positif untuk belajar, berkomunikasi, mencari informasi, serta mengembangkan potensi diri. Namun, penggunaan teknologi juga membutuhkan tanggung jawab agar siswa tidak mudah terpengaruh oleh informasi negatif maupun berbagai konten yang tidak sesuai dengan usia mereka. Karena itu, peserta didik didorong untuk lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah menyebarkan sesuatu sebelum memastikan kebenarannya. Literasi digital menjadi salah satu kemampuan penting agar generasi muda dapat memanfaatkan ruang digital secara produktif dan bertanggung jawab.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pemanfaatan dan pengawasan penggunaan gawai (screentime). Siswa diberikan pemahaman bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan aktivitas sehari-hari, terutama waktu belajar, beristirahat, berinteraksi dengan lingkungan, dan melakukan kegiatan positif lainnya. Penggunaan gawai perlu disertai pengawasan dan pengaturan waktu agar teknologi tetap menjadi alat bantu, bukan justru mengendalikan aktivitas penggunanya. Para siswa juga diajak membangun kebiasaan untuk menggunakan perangkat digital sesuai kebutuhan dan tujuan yang bermanfaat. Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa menjadi generasi digital bukan hanya tentang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan diri ketika menggunakannya.
Pada sesi berikutnya, Duta Damai BNPT Jawa Timur menyampaikan materi Pencegahan dan Pembelajaran Bahaya Bullying, Intoleransi, dan Kekerasan. Materi ini mengajak siswa memahami bahwa bullying dan kekerasan bukanlah bentuk candaan yang dapat dibiarkan, terutama ketika tindakan tersebut menyebabkan orang lain merasa takut, tertekan, atau direndahkan. Siswa juga diberikan pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan serta membangun interaksi yang dilandasi sikap saling menghormati. Lingkungan sekolah yang aman tidak hanya menjadi tanggung jawab guru atau pengelola lembaga pendidikan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Karena itu, siswa didorong untuk menjadi bagian dari terciptanya budaya sekolah yang ramah, saling menghargai, dan bebas dari bullying maupun kekerasan.
Kegiatan yang berlangsung di aula tersebut diikuti oleh peserta didik dari beberapa jenjang dalam Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Tuban. Berdasarkan data peserta dalam jadwal kegiatan, terdapat 246 peserta didik, terdiri atas 12 siswa jenjang SRD, 87 siswa SRMP, 87 siswa SRMA Tuban, dan 60 siswa SRMA Bojonegoro. Kehadiran peserta dari berbagai jenjang membuat materi yang diberikan menjadi relevan sebagai pembekalan bersama dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan lingkungan sosial. Para siswa mengikuti rangkaian materi hingga sesi refleksi yang menjadi bagian penutup kegiatan. Antusiasme peserta diharapkan dapat menjadi awal terbentuknya kebiasaan positif dalam menggunakan teknologi sekaligus membangun relasi yang sehat dengan sesama.
Melalui kegiatan tersebut, Duta Damai BNPT Jawa Timur menegaskan pentingnya pendidikan karakter yang berjalan beriringan dengan literasi digital. Pencegahan berbagai pengaruh negatif tidak cukup dilakukan setelah muncul persoalan, tetapi perlu dimulai sejak dini melalui edukasi dan pembiasaan. Ruang digital yang semakin dekat dengan kehidupan pelajar perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, serta kesadaran untuk menghargai orang lain. Demikian pula dengan pencegahan bullying, intoleransi, dan kekerasan yang membutuhkan kepedulian seluruh warga sekolah. Dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Tuban, pesan yang dibangun adalah bahwa generasi muda perlu tumbuh menjadi pengguna teknologi yang cerdas sekaligus pribadi yang mampu menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan saling menghargai.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!