Dukungan Berbagai Pihak Aspek Penting Dalam Penanganan Ekstremisme
Mengarah Pada Terorisme

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui
Indonesia Knowledge Hub (I-KHub) terus melakukan upaya percepatan
penanganan masalah ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada
terorisme. Keberlanjutan dukungan beragam pihak mulai dari skala
nasional hingga internasional menjadi salah satu aspek penting dalam
upaya tersebut.

“Untuk memperkuat, memperluas dan mempercepat dampak program terkait
upaya pencegahan dan penanganan ekstremisme berbasis kekerasan yang
mengarah pada terorisme,” jelas Deputi Bidang Kerjasama Internasional
Andhika Chrisnayudhanto dalam kegiatan Donor Coordination Meeting di
Jakarta pada Senin (3/6/2024).

Andhika memberikan salah satu contoh program yang dinilai berhasil
untuk memaksimalkan dampak dan mempercepat upaya Countering
Terrorisme/Violent Extrimism (CT/VE) di Indonesia yaitu melalui
program Strive Juvenile.

“Salah satunya, Strive Juvenile dilaksanakan sejak tahun 2021 dengan
dukungan Uni Eropa. Fokus pada isu penanganan anak – anak yang terkait
dengan terorisme. Adapun kerja sama ini dilanjutkan setelah melakukan
Donor Coordination Meeting 2023 lalu dan mendapat tambahan dukungan
dari negara Australia dan Kanada melalui program lanjutan yakni
“Preventing and Responding to Child Association with Terrorist Groups
2024 – 2026,” katanya.

Ia menjelaskan terkait resolusi yang diajukan Indonesia dalam hal ini
BNPT mengenai penanganan anak yang terasosiasi dengan kelompok teroris
dan telah mendapat pengesahan secara konsensus pada Sidang ke-33
Komisi Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana/Commission on Crime
Prevention and Criminal Justice (CCPCJ) yang berlangsung di Wina, Mei
lalu.

Sementara itu, pakar penanggulangan terorisme Eropa untuk Asia
Tenggara, Marc Vierstratete-Verlinde menuturkan salah satu alasan
mendasar Uni Eropa ingin bekerjasama dengan Indonesia adalah
keseriusan Indonesia dalam menangani isu ekstremisme berbasis
kekerasan yang mengarah pada terorisme.

“Beberapa tahun yang lalu, kami memutuskan untuk bekerja sama dengan
Indonesia karena kami melihat Indonesia adalah salah satu negara
penggerak di ASEAN dalam hal penanggulangan isu ekstremisme berbasis
kekerasan yang mengarah pada terorisme ini”  jelas Marc.

Marc mengapresiasi hadirnya I-KHub sebagai platform koordinasi antar
aktor PCVE di Indonesia, baik kementerian, lembaga, mitra pembangunan
dan lembaga internasional.

“Sebagai platform mekanisme kerjasama dan kolaborasi, I-KHub memiliki
peran penting untuk mengkonsolidasikan sumber daya beragam pihak untuk
upaya pencegahan ekstremisme. Termasuk dengan menggelar kegiatan ini,”
ungkapnya.