SUNGAILIAT – Kemampuan menggunakan teknologi belum cukup untuk membuat seseorang cakap digital. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, pelajar juga perlu memiliki kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami risiko di ruang digital, serta menjaga etika ketika berinteraksi di dunia maya.
Pesan tersebut disampaikan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dalam Sosialisasi Gerakan Sekolah Cakap Digital (Gesca) di SMA Negeri 1 Sungailiat, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini mengajak para siswa agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Babel, Ahmad Sirajudin, yang menyampaikan materi mewakili Kepala Diskominfo Babel, menjelaskan bahwa literasi digital memiliki cakupan lebih luas daripada sekadar keterampilan mengoperasikan perangkat teknologi.
Menurut Ahmad, terdapat empat aspek utama dalam literasi digital, yakni menggunakan (use), memahami (understand), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create). Keempat aspek tersebut menjadi bekal penting bagi pelajar untuk menghadapi perkembangan teknologi sekaligus menyaring informasi yang mereka temui setiap hari.
“Pada dasarnya, literasi digital ini adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan ruang digital secara efektif, bijak, dan bertanggung jawab,” papar Ahmad di hadapan puluhan siswa peserta sosialisasi.
Salah satu tantangan terbesar yang perlu dihadapi pelajar adalah membedakan informasi yang benar dan berita bohong atau hoaks. Informasi yang beredar di media sosial tidak selalu dapat dipercaya. Tanpa sikap kritis dan kebiasaan memeriksa sumber, pengguna internet berisiko ikut menyebarkan informasi keliru yang dapat merugikan orang lain.
Ahmad mengingatkan bahwa hoaks bukan sekadar informasi yang salah. Dalam kondisi tertentu, informasi palsu dapat digunakan untuk menyerang, mendiskreditkan, atau menjatuhkan individu maupun kelompok tertentu.
“Hoaks ini ditujukan untuk menyerang kelompok atau individu dengan tujuan menjatuhkan, maka sangat bahaya hoaks ini sebenarnya,” tegasnya.
Karena itu, pelajar perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membandingkan pemberitaan dari sumber tepercaya, dan memastikan kebenaran sebuah kabar sebelum membagikannya. Sikap tidak terburu-buru menyebarkan informasi menjadi salah satu bentuk tanggung jawab ketika menggunakan media sosial.
Selain kemampuan memilah informasi, Ahmad juga memaparkan empat pilar literasi digital nasional yang diluncurkan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Keempat pilar tersebut meliputi kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital.
Kecakapan digital berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi secara tepat. Etika digital menekankan perilaku yang santun dan saling menghormati, sedangkan keamanan digital mengingatkan pengguna agar melindungi data serta privasi. Adapun budaya digital mendorong pemanfaatan ruang digital dengan tetap menjunjung nilai-nilai yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks kehidupan pelajar, penerapan etika digital antara lain diwujudkan dengan tidak melakukan perundungan atau cyberbullying. Perbedaan pendapat di media sosial seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghina, mempermalukan, atau menyerang orang lain.
“Etika kita dalam berinteraksi di ruang digital harus sangat diperhatikan, karena informasi yang kita berikan atau ucapkan di media sosial akan tersimpan sebagai rekam jejak digital kita,” ucap Ahmad.
Ia mengingatkan bahwa aktivitas di internet dapat meninggalkan jejak yang berpengaruh terhadap reputasi seseorang. Oleh sebab itu, pelajar perlu mempertimbangkan dampak dari setiap komentar, unggahan, maupun informasi pribadi yang dibagikan kepada publik.
Menghormati privasi orang lain, menggunakan bahasa yang santun, serta menghindari penyebaran konten yang merendahkan merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai pengguna ruang digital. Dengan demikian, media sosial dapat dimanfaatkan untuk belajar, bertukar gagasan, dan membangun pertemanan tanpa menciptakan lingkungan yang penuh permusuhan.
Ahmad juga menekankan bahwa gerakan sekolah cakap digital tidak boleh hanya dibebankan kepada siswa. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan perlu ikut mengembangkan pemanfaatan teknologi secara positif, baik dalam proses pembelajaran maupun pengelolaan administrasi.
Menurut dia, teknologi dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, mempersiapkan siswa menghadapi kebutuhan masa depan, mengefisienkan administrasi sekolah, serta mendorong inovasi pendidikan. Manfaat tersebut akan lebih optimal apabila sekolah memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi secara tepat.
“Penggunaan teknologi di sekolah dapat membawa banyak manfaat, mulai dari meningkatkan kualitas pembelajaran, menyiapkan siswa untuk masa depan, mengefisienkan administrasi sekolah, hingga mendorong inovasi pendidikan. Maka dari itu, bukan hanya siswa yang harus cakap digital, sekolahnya juga harus dapat memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya,” pesan Ahmad.
Menutup paparannya, ia kembali mengajak para siswa untuk menjadikan kebijaksanaan dan tanggung jawab sebagai pedoman dalam beraktivitas di dunia maya. Pelajar diharapkan mampu berkomunikasi secara santun, menghargai privasi diri sendiri maupun orang lain, serta membiasakan diri mencari kebenaran sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
“Sebagai generasi penerus bangsa, kalian harus dapat bijak dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital dengan berkomunikasi secara santun, menghargai privasi diri sendiri dan orang lain, serta mencari kebenaran atau tidak menerima informasi secara langsung,” pungkasnya. Melalui Sosialisasi Gerakan Sekolah Cakap Digital, Diskominfo Babel mendorong terbentuknya lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu membangun kebiasaan digital yang sehat. Kecakapan digital diharapkan menjadi bekal bagi pelajar untuk menghadapi banjir informasi sekaligus menciptakan ruang digital yang aman, beretika, dan produktif.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!