Jakarta – Indonesia terus memimpin upaya kontra-narasi terhadap intoleransi, radikalisme, dan terorisme di kawasan Asia Tenggara melalui pendidikan inklusif. Enam delegasi strategis dari Kamboja, Laos, dan Vietnam tiba di Jakarta untuk mempelajari Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya.
Inisiatif Institut Leimena ini telah melatih lebih dari sebelas ribu pendidik untuk meredam ekstremisme sejak dini. Program imersi selama hampir sepekan ini menjadi etalase keberhasilan nyata Indonesia mengelola keberagaman di tengah ancaman polarisasi global. Program Institut Leimena ini dilaksanakan pada 19–23 Agustus 2026.
“Kami ingin berbagi pengalaman yang kami miliki di Indonesia karena Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini bertujuan membangun kohesi sosial dan berkaitan erat dengan upaya bangsa kami dalam mengelola keberagaman. Kami memandang baik berbagi pengalaman ini dengan negara-negara lain di Asia Tenggara,” ujar Matius Ho, Direktur Eksekutif Institut Leimena.
Matius menegaskan bahwa ini bukanlah sesederhana meniru apa yang dilakukan Indonesia, karena setiap negara pasti mempunyai konteks berbeda, tetapi para delegasi negara tetangga ingin melihat bahwa ada hal-hal baik yang bermanfaat untuk negara mereka dan dari sana Indonesia dan sesama negara-negara ASEAN bisa membangun kerja sama untuk melawan radikalisme.
Para delegasi dari kementerian agama dan akademi politik negara tetangga tersebut diajak melihat langsung bagaimana pendidikan multikultural diaplikasikan. Mereka mengamati lokakarya yang melibatkan puluhan guru untuk mencegah doktrinasi radikal, sekaligus berkunjung ke Masjid Istiqlal. Mereka juga berdialog langsung dengan para pejabat pemerintah terkait strategi deradikalisasi. Pendekatan lintas iman ini diakui sebagai fondasi penting dalam membendung intoleransi.
“Dimulai dari kompetensi pribadi artinya kami mengetahui betul inti dari ajaran agama kami dalam memandang orang lain yang berbeda. Misalnya Islam tidak pernah mengajarkan intoleransi, bahkan Islam menganjurkan kami bekerja sama. Program ini bermula dari kegelisahan kami terhadap tingginya angka intoleransi di kalangan guru agama berdasarkan survei pada tahun 2019 silam, yang jika dibiarkan akan menjadi ancaman serius bagi persatuan bangsa kita,” jelas Alwi Shihab, mantan Menteri Luar Negeri sekaligus Senior Fellow Institut Leimena.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa moderasi adalah senjata paling ampuh untuk membungkam narasi kebencian dan membangun benteng pertahanan ideologis yang kokoh terhadap ancaman terorisme di masa depan. Negara-negara ASEAN semakin menyadari bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan kolektif yang harus dijaga melalui ruang dialog yang setara antarumat.
“LKLB (Literasi Keagamaan Lintas Budaya) adalah salah satu metodologi yang kami anggap bisa direplikasi di konteks negara-negara Asia Tenggara untuk mendukung perdamaian dan mencegah terorisme,” kata Yuyun Wahyuningrum, peneliti Erasmus University Rotterdam.
Menegaskan hal tersebut, Bhante Partono Nyana Suryanadi Mahathera menambahkan, “Saya melihat bahwa pendekatan ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memperluas dialog lintas iman di tengah masyarakat majemuk.”
Penjelasan tentang pertemuan ini dilengkapi oleh Pdt. Henriette T. Hutabarat, dengan pernyataannya bahwa pertemuan Ini adalah ruang aman bagi para delegasi negara tetangga untuk menanyakan hal-hal yang dianggap sensitif. Dirinya mengingatkan, para perwakilan komunitas dari Indonesia harus merespon semua pertanyaan secara jujur dan dengan tetap menghargai perbedaan yang ada di Indonesia sebagai sesama anak bangsa.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!