Di era transformasi digital yang kian masif, semboyan Bhinneka Tunggal Ika kini menghadapi tantangan yang tidak lagi kasatmata. Jika dahulu ancaman terhadap persatuan bangsa muncul dalam bentuk konflik fisik atau provokasi langsung, kini ancaman tersebut bersembunyi di balik kecanggihan Kecerdasan Buatan (AI) dan algoritma media sosial yang menciptakan fenomena “Echo Chambers” atau ruang gema digital.
Algoritma media sosial didesain secara teknis untuk mempertahankan durasi pengguna di dalam platform. Caranya adalah dengan terus menyuguhkan konten yang hanya sesuai dengan minat, opini, dan preferensi pribadi pengguna. Tanpa disadari, pola kerja teknologi ini mengurung masyarakat ke dalam ruang gema yang sempit. Di dalam ruang ini, opini kita selalu dibenarkan, sementara perspektif orang lain yang berbeda perlahan-lahan dihilangkan dari lini masa kita.
Kondisi ini menciptakan polarisasi yang tajam. Saat seseorang terus-menerus terpapar pada narasi yang seragam, kemampuan untuk berempati dan memahami kemajemukan berpikir mulai luntur. Kemajemukan yang menjadi ruh dari Pancasila kini terbentur “dinding digital” yang membuat masyarakat sulit melihat kebenaran dari sisi yang berbeda. Akibatnya, alih-alih menjadi jembatan informasi, media sosial justru sering kali menjadi mesin pemecah belah yang memicu sentimen kebencian terhadap kelompok yang berbeda pandangan.
Di era pasca-kebenaran (post-truth), emosi dan keyakinan pribadi lebih dianggap sebagai kebenaran daripada fakta objektif, penguatan wawasan kebangsaan menjadi mendesak. Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan teks, melainkan harus diaktualisasikan sebagai kerangka berpikir kritis di dunia maya.
Sikap terbuka (open-minded) adalah kunci utama. Masyarakat harus didorong untuk berani “memecahkan” ruang gema mereka sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan secara sadar mencari informasi dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan melakukan verifikasi mendalam sebelum menyebarkan informasi. Persatuan di dunia nyata tidak boleh retak hanya karena distorsi persepsi yang diciptakan oleh algoritma di dunia maya.
Membangun Literasi Kebangsaan Digital
Penguatan wawasan kebangsaan di era digital memerlukan strategi literasi yang baru. Pendidikan Pancasila harus masuk ke dalam ranah etika bermedia sosial, mengajarkan bahwa menghormati perbedaan bukan hanya terjadi saat bertatap muka, tetapi juga saat berinteraksi lewat layar gawai. Kita harus menyadari bahwa identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang majemuk harus lebih kuat daripada identitas digital yang sering kali semu.
Ketahanan nasional kita saat ini sangat bergantung pada kemampuan setiap individu untuk tetap kritis dan tidak terjebak dalam fanatisme golongan yang dipicu oleh teknologi. Dengan menjaga keterbukaan pikiran dan menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah serta gotong royong dalam ruang digital, kita dapat memastikan bahwa “dinding” yang diciptakan oleh algoritma tidak akan pernah mampu merobohkan bangunan besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kembali ke Esensi Persatuan
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Tantangan sesungguhnya terletak pada kemauan kita untuk merawat persaudaraan. Di tengah gempuran arus informasi yang tidak terbendung, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi filter utama. Kita harus mampu membuktikan bahwa kemajemukan bangsa Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan sekadar barisan kode algoritma. Persatuan yang kokoh hanya bisa diraih jika kita memiliki keberanian untuk mendengarkan, memahami, dan menghargai mereka yang berbeda dari kita, baik di dunia nyata maupun di ruang digital yang penuh dinamika.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!