SURABAYA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mewaspadai penyebaran paham radikalisme dan ideologi kekerasan melalui media sosial serta permainan daring. Perubahan pola penyebaran tersebut menjadi tantangan serius karena anak-anak dan remaja dapat terpapar narasi ekstrem tanpa harus bertemu langsung dengan kelompok penyebarnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Irjen Pol. Wawan Ridwan, mengatakan pemanfaatan teknologi digital telah mengubah cara kelompok penyebar ideologi kekerasan menjangkau masyarakat, termasuk kalangan pelajar.
“Kalau dulu secara konvensional mengajak dari pintu ke pintu, kemudian untuk melakukan kekerasan. Sekarang polanya berubah. Mereka menyebarkan paham melalui media sosial,” kata Wawan saat ditemui dalam kegiatan Digital Peace Creator di Arief Rahman Hakim Convention Hall, Surabaya, Kamis (22/10/2026).
Menurut Wawan, penyebaran melalui internet memiliki jangkauan yang luas dan dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan pendekatan konvensional. Anak-anak dan remaja berpotensi menemukan konten bermuatan ideologi kekerasan ketika menggunakan media sosial maupun berinteraksi di berbagai komunitas digital.
Ia menyebut BNPT telah menemukan anak-anak berusia sekitar 11 hingga 18 tahun yang terpapar dan teridentifikasi terlibat dalam komunitas dengan ideologi kekerasan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan, pendampingan, dan peningkatan kemampuan memahami informasi digital.
Wawan juga menyoroti sejumlah kasus yang menjadi perhatian, termasuk kejadian di SMA Negeri 72 Jakarta serta beberapa kasus di Sumatera Barat dan Kalimantan Barat.
“Ini lebih cepat daripada konvensional. Kalau konvensional, seseorang harus bertemu dengan kelompok radikal. Kalau melalui media sosial, penyebarannya lebih cepat. Ini yang sangat berbahaya dan harus kita antisipasi,” ujarnya.
Gim daring turut menjadi perhatian
Selain media sosial, BNPT menaruh perhatian pada pemanfaatan permainan daring atau online game untuk menjangkau anak-anak dan menghubungkan mereka dengan komunitas yang menyebarkan ideologi kekerasan.
Gim daring pada dasarnya merupakan sarana hiburan dan interaksi. Namun, fitur komunikasi serta ruang percakapan yang tersedia di sejumlah platform dapat disalahgunakan untuk menyebarkan propaganda atau membangun hubungan dengan pengguna yang menjadi sasaran.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan secara proporsional. Anak-anak tidak cukup hanya dilarang menggunakan gawai atau bermain gim, tetapi juga perlu dibekali kemampuan mengenali ajakan yang mencurigakan, memeriksa kebenaran informasi, dan memahami risiko berinteraksi dengan pihak yang tidak dikenal di ruang digital.
Peran orang tua, guru, dan lingkungan pendidikan menjadi penting untuk mendampingi anak ketika beraktivitas di internet. Pendekatan dialogis dan edukatif diharapkan membantu anak merasa nyaman untuk bertanya atau melaporkan konten yang membuat mereka khawatir, tanpa takut langsung disalahkan.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, BNPT memperkuat literasi digital melalui program Digital Peace Creator. Program ini dirancang sebagai pelatihan pembuatan konten edukatif bagi pelajar untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme.
Kegiatan yang diselenggarakan melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur tersebut melibatkan 250 pelajar tingkat menengah dari Surabaya dan Sidoarjo.
Melalui program ini, pelajar didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga berperan aktif menyebarkan pesan positif, toleransi, dan perdamaian. Kemampuan membuat konten yang menarik dan sesuai dengan bahasa generasi muda diharapkan dapat memperluas jangkauan pesan pencegahan di ruang digital.
Penguatan literasi digital juga diarahkan agar pelajar mampu membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari konten provokatif, memahami dampak penyebaran ujaran kebencian, serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang membenarkan kekerasan.
Tantangan radikalisme di ruang digital membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu membangun lingkungan yang membantu anak-anak dan remaja mengembangkan sikap kritis sekaligus menghargai perbedaan. Melalui Digital Peace Creator, BNPT dan FKPT Jawa Timur mendorong generasi muda mengambil peran dalam merawat ruang digital yang sehat. Upaya pencegahan diharapkan tidak hanya menekan penyebaran ideologi kekerasan, tetapi juga memperkuat budaya bermedia sosial yang bertanggung jawab, toleran, dan damai.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!