Diduga Teroris, Pria di Belakang Polsek PPU Ditembak Mati

Poso – Seorang pria meregang nyawa setelah sejumlah timah panas menembus tubuhnya saat pria bernama Qidam Alfariski Mofance ini dipergoki polisi sedang berada di kebun belakang Polsek Poso Pesisir Utara (PPU), Kamis, (9/4) malam pekan lalu.

Pria ini ditembak polisi karena diduga adalah bagian dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang kini masih berkeliaran di hutan Poso.

Informasi yang diperoleh dari pihak kepolisian, terjadinya penembakan itu bermula saat Babinkamtibmas Polsek Poso Pesisir Utara memberikan informasi adanya satu orang tak dikenal (OTK) yang mendatangi rumah warga di Dusun 3 Desa Tobe Kec Poso Pesisir Utara meminta minum.

Warga sempat menanyakan asal pria tersebut yang dijawab berasal dari Desa Tambarana. Namun pria tersebut bergegas pergi ke arah kebun jati belakang Polsek PPU.

Sekitar Pukul 22.15 Wita, aparat kepolisian melakukan penyisiran di lorong kelapa Dusun 3 Desa Tobe Kec Poso Pesisir Utara. Pada pukul 23.00 Wita, terdengar suara tembakan dari arah selatan Polsek Poso Pesisir Utara di sekitar lorong kelapa, kemudian pasukan langsung bergegas ke TKP.

Pada pukul 23.30 Wita, kembali terdengar suara tembakan sebanyak 6 kali dengan suara rentetan di lokasi yang sama, kemudian di sekitar Polsek PPU telah diperketat keamanannya dan melakukan sandi kepada orang yang datang untuk mengantisipasi adanya penyusup masuk di sekitar Polsek PPU.

Usai suara tembakan, polisi melakukan penyisiran di sekitar TKP dan menemukan seorang pria dalam kondisi sudah meninggal dunia. Belakangan diketahui pria itu bernama Qidam Alfariski Mofance (20).

Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Pol Didik Supranoto yang dikonfirmasi KabarSelebes.id tidak bisa dihubungi. Kapolres Poso yang dihubungi juga masih memilih diam dan menyerahkannya ke Polda Sulteng.

Tewasnya Qidam Alfariski Mofance (20) ternyata tidak diterima oleh pihak keluarga. Mereka keberatan jika korban dikaitkan dengan kelompok bersenjata pimpinan Ali Kalora di hutan Poso. Karena menurut keluarga, korban sama sekali tidak kenal dengan kelompok itu.

Keberadaan korban di Desa Tobe hingga akhirnya ditembak polisi itu pun karena dia lari dari rumah setelah tidak mau tinggal di rumah akibat adanya imbauan berdiam diri tiga hari di rumah karena corona. Itupun karena dia baru saja berhenti bekerja dari SPBU Tambarana.

Menurut Asman, paman korban, saat itu ponakannya Qidam Alfariski Mofance yang tinggal di rumah neneknya di Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara, meninggalkan rumah karena suntuk dengan social distance dan imbauan di rumah saja akibat corona.

“Karena dilarang neneknya untuk keluar rumah, dia memaksa keluar kemarin (Kamis, 9 April 2020) malam. Karena katanya dia keluar bawa tas maka saya susul dia jangan sampai dia berangkat ke Palu atau pulang sama mamanya di Menado,” cerita Asman yang dihubungi per telepon Jumat malam.

Sesampai di Desa Tobe, korban yang baru tamat SMA tahun 2019 yang lalu itu ternyata sempat minta minum di salah satu rumah warga. Oleh warga mengira dia adalah kelompok teroris mengingat wilayah itu kerap menjadi perlintasan kelompok MIT.

“Waktu minum itu dia dengar ada suara motor dan dia takut itu Saya yang mencari dia sehingga dia lari ke hutan di belakang polsek. Saya sempat dengar suara tembakan dan tidak ada itu baku tembak karena ponakan saya itu hanya bawa baju ganti tidak ada senjata atau senter,” kata Asman.

Suara tembakan itulah yang mengakhiri nyawa korban. Korban yang sehari-hari bekerja di SPBU itu tewas dengan luka tembak dan luka benda tajam di bagian paha kiri dan beberpa bagian tubuh.

“Kami keberatan disebut ponakan kami ini teroris. Jangankan bergabung, kenal saja sama Ali Kalora tidak. Sehari-hari dia kerja di SPBU. Bahkan dia itu juga sama-sama kerja di somel (sawmill) dengan polisi yang kerja di polsek itu. Kami keluarga meminta polisi untuk bertanggungjawab,” tandas Asman.