Di MAN 1 Tuban, Duta Damai BNPT Jatim Perkuat Ketahanan Satuan Pendidikan Lewat Moderasi Beragama dan Literasi Digital

Tuban – Duta Damai Dunia Maya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Regional Jawa Timur kembali memperkuat komitmennya dalam membangun ketahanan generasi muda melalui kegiatan edukasi di lingkungan pendidikan. Kali ini, edukasi dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tuban dalam rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (16/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula MAN 1 Tuban tersebut diikuti oleh seluruh peserta didik baru dan menghadirkan Ketua Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur, Achmad Reza Rafsanjani, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber. Sosialisasi mengangkat tema “Menumbuhkan Ketahanan Satuan Pendidikan melalui Moderasi Beragama, Pencegahan Bullying, Penguatan Literasi Digital, serta Penolakan terhadap Paham Intoleransi dan Ekstremisme.”

Dalam pemaparannya, Achmad Reza Rafsanjani menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari derasnya arus informasi di ruang digital. Menurutnya, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pelajar sehingga diperlukan kemampuan literasi digital agar mampu memilah informasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi provokatif maupun konten yang mengandung ujaran kebencian.

“Anak muda harus menjadi generasi yang cerdas dalam menggunakan media sosial. Jangan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi jadilah generasi yang mampu berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, serta memanfaatkan media digital untuk belajar, berkarya, dan menyebarkan konten-konten positif,” ujarnya.

Selain penguatan literasi digital, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Reza mengajak para siswa untuk memahami bahwa perbedaan merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati, toleransi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Materi juga membahas pentingnya menciptakan lingkungan madrasah yang aman dari praktik bullying maupun berbagai bentuk kekerasan. Menurutnya, perundungan tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan karakter peserta didik. Karena itu, setiap siswa diharapkan memiliki rasa empati, saling menghargai, serta berani melapor kepada guru apabila mengetahui adanya tindakan bullying di lingkungan sekolah.

Reza turut mengingatkan bahwa kelompok penyebar paham intoleransi dan ekstremisme kini semakin aktif memanfaatkan ruang digital untuk menyasar generasi muda. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir kritis, budaya literasi, serta pendampingan dari guru dan keluarga menjadi benteng penting dalam mencegah penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Kepala MAN 1 Tuban, Fatah Yasin, mengapresiasi kehadiran Duta Damai BNPT Jawa Timur yang telah memberikan penguatan karakter kepada para peserta didik baru. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi remaja saat ini, khususnya dalam penggunaan media sosial dan kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

“Kami berharap kegiatan ini mampu memperkuat karakter peserta didik agar memiliki wawasan kebangsaan, sikap toleran, bijak dalam bermedia digital, serta mampu menjadi generasi yang berprestasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” ungkapnya.

Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Para siswa tampak antusias mengikuti materi dan aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi di dunia digital. Melalui kegiatan ini, Duta Damai BNPT Regional Jawa Timur berharap para pelajar MAN 1 Tuban mampu menjadi generasi yang cerdas, berintegritas, serta menjadi agen perdamaian yang menyebarkan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan semangat kebangsaan, baik di lingkungan madrasah maupun di ruang digital.

Kegiatan di MAN 1 Tuban merupakan bagian dari program Duta Damai Jatim Goes to School, yang terus diperluas ke berbagai satuan pendidikan di Jawa Timur sebagai upaya membangun ketahanan pelajar terhadap ancaman bullying, intoleransi, ekstremisme, serta berbagai pengaruh negatif di era digital.