Lamongan – Upaya membangun ketahanan generasi muda dari pengaruh intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) terus diperkuat melalui pendekatan edukatif di lingkungan sekolah. Densus 88 Anti Teror Polri Jawa Timur bersama Duta Damai Dunia Maya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Regional Jawa Timur menggelar sosialisasi di MTs-MA Al-Ma’arif Cumpleng, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan siswa dan guru dengan tujuan meningkatkan kesadaran terhadap berbagai bentuk penyebaran paham ekstrem yang kini semakin banyak memanfaatkan ruang digital sebagai media propaganda.
Pada sesi pertama, personel Densus 88 Anti Teror Polri Jawa Timur, Edi Purwanto, mengingatkan bahwa pelajar merupakan kelompok yang memiliki potensi besar sebagai agen perubahan, tetapi sekaligus menjadi sasaran empuk penyebaran ideologi radikal apabila tidak dibekali pemahaman yang memadai.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola penyebaran paham ekstrem. Media sosial, platform digital, hingga ruang komunikasi daring kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi kebencian, memengaruhi cara berpikir, bahkan merekrut anggota baru.
“Generasi muda adalah aset bangsa yang harus dijaga. Karena itu, pemahaman mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme perlu ditanamkan sejak dini agar para pelajar memiliki daya tangkal terhadap berbagai bentuk propaganda dan ajakan yang mengarah pada kekerasan,” ujar Edi.
Ia menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta penguatan karakter menjadi bekal penting agar para pelajar mampu memilah informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengandung provokasi maupun ajaran yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
Sementara itu, Ketua Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur, Achmad Reza Rafsanjani, mengajak para siswa melihat persoalan ekstremisme tidak hanya dari sisi ideologi, tetapi juga dari kondisi sosial yang dapat menjadi pintu masuk lahirnya sikap intoleran.
Ia menilai praktik perundungan (bullying), kekerasan, serta minimnya kepedulian di lingkungan sekolah dapat membuat sebagian remaja merasa terasing dan rentan menjadi sasaran kelompok yang menawarkan penerimaan melalui narasi ekstrem.
“Bullying dan kekerasan tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa. Ketika seseorang terus-menerus direndahkan, dikucilkan, atau diperlakukan tidak adil, kondisi tersebut dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstrem untuk melakukan pendekatan. Karena itu, membangun budaya saling menghargai, empati, dan kepedulian di lingkungan sekolah merupakan bagian penting dari upaya pencegahan ekstremisme,” kata Reza.
Ia juga mengimbau para siswa agar menggunakan media sosial secara bijak, meningkatkan literasi, serta tidak ragu melaporkan kepada guru maupun pihak sekolah apabila menemukan tindakan perundungan, ujaran kebencian, maupun konten yang mengandung ajakan menuju radikalisme.
Sosialisasi berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai cara mengenali propaganda digital, menyikapi informasi yang beredar di media sosial, hingga langkah yang perlu dilakukan ketika menemukan indikasi penyebaran paham radikal di lingkungan sekitar.
Kolaborasi antara Densus 88 Anti Teror Polri Jawa Timur dan Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur ini diharapkan mampu memperkuat daya tahan pelajar terhadap ancaman IRET sekaligus menumbuhkan peran mereka sebagai agen perdamaian yang menyebarkan nilai toleransi, persatuan, dan kebangsaan, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang digital.
Melalui pendekatan preventif berbasis pendidikan, literasi digital, dan penguatan karakter, sekolah diharapkan menjadi benteng pertama dalam mencegah berkembangnya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di kalangan generasi muda.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!