SORONG – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Papua Barat Daya memperkuat upaya pencegahan radikalisme dan terorisme melalui deteksi dini serta pemberdayaan generasi muda. Salah satu langkah yang disiapkan adalah program pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan pembukaan akses kerja bagi kelompok rentan.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang digelar di Belagri Hotel Sorong, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi forum untuk memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan sekaligus merumuskan langkah konkret menghadapi potensi penyebaran paham radikalisme di Papua Barat Daya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kesbangpol Papua Barat Daya, George Japsenang, mengatakan posisi wilayahnya sebagai pintu gerbang Tanah Papua membuat kewaspadaan dan upaya pencegahan perlu diperkuat melalui kerja sama berbagai pihak.
“Papua Barat Daya merupakan pintu gerbang Tanah Papua. Karena itu, kita perlu mewaspadai masuknya paham radikalisme dan terorisme di wilayah ini,” kata George kepada wartawan seusai membuka kegiatan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang dimilikinya, terdapat sekitar enam orang yang terpapar radikalisme dan saat ini menjalani pembinaan oleh Densus serta instansi terkait di bidang sosial. Pembinaan tersebut diarahkan untuk membantu proses pemulihan mereka.
Menurut George, pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan memberikan perhatian kepada generasi muda. Upaya ini tidak cukup hanya melalui pemantauan potensi ancaman, tetapi juga perlu menyentuh kondisi sosial yang dapat memengaruhi kehidupan anak muda.
Karena itu, Kesbangpol PBD mendorong keterlibatan pemerintah, masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan berbagai unsur lainnya dalam membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda secara positif.
Pemberdayaan melalui pendidikan dan keterampilan
Selain memperkuat deteksi dini, Kesbangpol Papua Barat Daya merencanakan program pemberdayaan bagi kelompok rentan, termasuk anak putus sekolah dan generasi muda yang menghadapi persoalan sosial. Program tersebut akan menggabungkan pendidikan vokasi, pembinaan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing, serta pelatihan dan sertifikasi keterampilan.
“Program tersebut akan diarahkan pada pendidikan vokasi, pembinaan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing, hingga pelatihan dan sertifikasi keterampilan,” ujar George.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah daerah berharap generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk meningkatkan kemampuan, mengembangkan potensi diri, dan memperoleh pekerjaan. Peserta yang menyelesaikan pelatihan direncanakan dapat disalurkan ke perusahaan sesuai kompetensi yang dimiliki.
Pendekatan pemberdayaan ini menjadi salah satu bagian dari upaya pencegahan yang lebih menyeluruh. Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham ekstrem, pemerintah berupaya membuka akses pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kerja agar generasi muda mempunyai ruang yang lebih besar untuk membangun masa depan.
George menyebutkan, pihaknya telah memetakan sembilan wilayah di Kota Sorong sebagai sasaran awal program. Pelaksanaannya direncanakan melibatkan pemerintah distrik dan kelurahan, tokoh agama, lembaga pelatihan kerja, serta unsur TNI-Polri.
Kesbangpol PBD berharap program tersebut dapat mulai direalisasikan pada 2027 dan dijalankan secara berkelanjutan selama lima hingga sepuluh tahun ke depan. Rentang waktu tersebut diharapkan memberi ruang bagi pembinaan yang konsisten, penguatan kapasitas masyarakat, serta evaluasi terhadap hasil program.
“Pencegahan radikalisme dan terorisme bukan hanya tugas pemerintah. Kita membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk menyelamatkan generasi muda, meningkatkan keterampilan, serta membuka peluang kerja,” tegasnya.
Rapat koordinasi FKPT Papua Barat Daya tersebut diikuti pengurus FKPT PBD, perwakilan guru, siswa, mahasiswa, dosen, serta instansi terkait. Keterlibatan unsur pendidikan dan masyarakat diharapkan memperkuat koordinasi pencegahan sekaligus memperluas peran generasi muda dalam menjaga kehidupan sosial yang aman dan damai. Melalui kolaborasi lintas sektor, Kesbangpol PBD mendorong agar pencegahan radikalisme dan terorisme tidak hanya bertumpu pada deteksi ancaman, tetapi juga pada penguatan ketahanan masyarakat. Pendidikan, dialog lintas agama, keterampilan, dan kesempatan kerja diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga generasi muda serta memperkuat persatuan di Papua Barat Daya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!