TANA PASER – Menjaga kerukunan di tengah perbedaan perlu dimulai dari generasi muda. Berangkat dari semangat tersebut, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mengajak pelajar lintas agama memperkuat moderasi beragama sekaligus mewaspadai potensi penyebaran paham radikal dan sikap intoleran.
Upaya menanamkan nilai toleransi itu tidak hanya dilakukan melalui dialog dan edukasi. Sebelum menggelar forum penguatan moderasi beragama, jajaran pengurus IPARI Paser terlebih dahulu bergotong royong membersihkan dua gereja dan dua musala di wilayah setempat. Aksi tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk bekerja sama menjaga rumah ibadah dan merawat kebersamaan.
Ketua DPD IPARI Kabupaten Paser Muhammad Ilham mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Momentum ini dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat persatuan sekaligus membangun kesadaran generasi muda agar menghormati perbedaan agama dan keyakinan.
“Melalui kegiatan ini, kami mengajak pemuda dan pemudi Kabupaten Paser untuk sama-sama menjaga toleransi,” kata Muhammad Ilham, Senin (26/10/2026).
Menurut Ilham, penguatan moderasi beragama penting dilakukan sejak usia sekolah. Para pelajar perlu mendapatkan pemahaman yang tepat tentang cara menjalankan ajaran agama sekaligus membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda.
Ia menegaskan, moderasi beragama bukan berarti mengubah atau mengurangi ajaran agama. Sebaliknya, moderasi beragama mendorong umat menjalankan keyakinannya secara baik, bijaksana, dan bertanggung jawab tanpa merendahkan atau memusuhi pemeluk agama lain.
“Tujuan utama kita adalah mencari persamaan untuk sama-sama kita jalankan demi mencapai kesuksesan bersama dan menjaga kondusivitas daerah agar tidak terjadi konflik keagamaan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut melibatkan pelajar dari empat sekolah menengah di Kabupaten Paser, yakni SMK 1, SMK 2, SMK 3, dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Para siswa berasal dari latar belakang agama yang beragam sehingga forum ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan untuk saling mengenal, bertukar pandangan, dan membangun sikap saling menghormati.
Materi penguatan moderasi beragama disampaikan oleh narasumber lintas instansi, yakni Kepolisian Resor (Polres) Paser, DPD IPARI, dan Kementerian Agama Kabupaten Paser. Perwakilan unsur keagamaan Islam, Kristen, dan Katolik turut memberikan perspektif mengenai pentingnya menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain membahas toleransi, forum tersebut menyoroti potensi radikalisme yang dapat memengaruhi generasi muda. Pihak kepolisian memberikan pembekalan mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap paham ekstrem, terutama ketika pelajar berhadapan dengan berbagai informasi dan pengaruh di lingkungan pergaulan.
Edukasi ini diarahkan agar remaja memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis, tidak mudah menerima ajakan yang mengarah pada kebencian, serta mampu membedakan pengamalan agama yang mendorong kebaikan dari sikap yang membenarkan permusuhan terhadap kelompok lain.
Bagi IPARI Paser, pembentukan karakter generasi muda tidak cukup hanya melalui penyampaian materi di ruang dialog. Nilai toleransi juga perlu diperkenalkan melalui pengalaman langsung yang memperlihatkan manfaat kerja sama lintas agama, seperti gotong royong membersihkan rumah ibadah.
Aksi tersebut menghadirkan pesan sederhana bahwa kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan tanpa harus menghilangkan perbedaan keyakinan. Setiap orang tetap dapat menjalankan agamanya masing-masing sambil berkontribusi menjaga lingkungan dan kehidupan sosial yang harmonis.
Ilham menekankan pentingnya mencari titik temu untuk membangun kehidupan bersama. Sikap ekstrem dan intoleran yang mengabaikan penghormatan terhadap sesama perlu dihindari karena dapat merusak hubungan sosial dan memicu konflik di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan yang memadukan aksi sosial dan edukasi lintas agama ini, IPARI Paser berharap para pelajar tidak hanya memahami moderasi beragama secara konseptual, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semangat Sumpah Pemuda pun diharapkan menjadi pengingat bahwa persatuan Indonesia tumbuh dari kesediaan untuk bekerja sama, menghormati perbedaan, dan menjaga kerukunan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!