Cegah Anak Terpapar Radikalisme, Sekolah di Jakarta Terapkan Laboratorium Pancasila

Jakarta – Penguatan karakter dan wawasan kebangsaan di lingkungan sekolah menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah anak terpapar paham radikalisme dan kekerasan. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP), yang mengajak siswa tidak sekadar memahami nilai-nilai Pancasila, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap paparan paham ekstrem di kalangan anak dan remaja. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat sebanyak 620 anak berusia 11–18 tahun dari 34 provinsi mendapat intervensi aparat penegak hukum karena terpapar paham radikalisme maupun kekerasan selama periode 1 Januari hingga 26 Agustus 2026.

Data tersebut menunjukkan pentingnya membangun ketahanan anak sejak dini melalui pendidikan karakter, penguatan nilai kebangsaan, serta lingkungan pendidikan yang mampu menanamkan sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.

Salah satu penerapan pendekatan tersebut dilakukan di SMPN 172 Jakarta Timur melalui program Sekolah Laboratorium Pancasila. Implementasi program ini ditampilkan dalam Selebrasi Sekolah Laboratorium Pancasila pada 29 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut dikemas melalui berbagai aktivitas kreatif, mulai dari Festival Kuliner Nusantara, peragaan busana berbahan daur ulang, bazar aksesori etnik, pementasan drama karakter, hingga bazar makanan sehat.

Kepala SMPN 172 Jakarta Timur Mulyaningsih mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila melalui pengalaman langsung. Para murid diajak bekerja sama, menghargai keberagaman, mengembangkan kreativitas, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

“Melalui kegiatan unjuk karya ini, kami ingin memberikan ruang kepada murid untuk belajar bekerja sama, menghargai keberagaman, mengembangkan kreativitas, serta menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Mulyaningsih dalam siaran pers, Senin (2/11/2026).

Program SLP dirancang dengan mengintegrasikan pendidikan ideologi Pancasila, pembinaan budi pekerti, kesehatan, kepedulian lingkungan, serta pencegahan berbagai perilaku berisiko. Di antaranya radikalisme, tawuran, perundungan, dan penyalahgunaan narkoba.

Penyampaian materi tidak hanya mengandalkan pembelajaran di dalam kelas. Sekolah menerapkan permainan edukatif, pembiasaan perilaku positif, pemilihan duta SLP di setiap kelas, hingga kegiatan praktik yang melibatkan langsung para siswa.

Dengan pendekatan tersebut, nilai-nilai Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelajaran atau hafalan, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan dalam interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari.

Untuk mendukung pelaksanaan program selama enam bulan, seluruh guru SMPN 172 Jakarta Timur telah mendapatkan pelatihan dari tim Yayasan Pendidikan Laboratorium Pancasila (YPLP). Implementasi dilakukan secara bertahap terhadap siswa di 22 kelas. Sekolah juga melakukan pengukuran untuk mengevaluasi efektivitas program.

Ketua YPLP Hamry Gusman Zakaria mengatakan, pendidikan Pancasila perlu diterapkan melalui aktivitas nyata agar siswa terbiasa menghargai perbedaan dan menjadikan nilai kebangsaan sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.

Menurut Hamry, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi muda, termasuk menanamkan kecintaan terhadap tanah air tanpa mengabaikan penghormatan terhadap kemanusiaan dan keberagaman.

“Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang menanamkan rasa cinta tanah air sekaligus menghargai kemanusiaan dan keberagaman. Melalui SLP, murid tidak hanya diajak memahami Pancasila, tetapi juga mempraktikkannya dalam interaksi, karya, dan tindakan sehari-hari,” ujar Hamry yang juga anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan Provinsi DKI Jakarta.

Pengembangan program ini tidak hanya dilakukan di SMPN 172 Jakarta Timur. Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan sekolah percontohan Sekolah Laboratorium Pancasila di 10 sekolah lainnya, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Perluasan tersebut diharapkan dapat menguji penerapan pendidikan karakter berbasis Pancasila pada berbagai jenjang pendidikan. Evaluasi juga akan dilakukan untuk mengukur dampaknya terhadap perubahan perilaku dan pemahaman kebangsaan siswa.

Melalui pendidikan yang menekankan praktik toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan kepedulian sosial, sekolah diharapkan menjadi salah satu benteng awal dalam membangun ketahanan generasi muda dari pengaruh radikalisme dan berbagai bentuk kekerasan.