Boy Rafli Amar: Kekeluargaan Jadi Benteng Bangsa Hadapi Tekanan Global

Jakarta – Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol. (Purn.) Boy Rafli Amar, mengingatkan pentingnya menjaga nilai kebersamaan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam acara “Silaturahmi Tanpa Batas” yang digelar Ikatan Alumni SMA 37 Jakarta atau Ikasman 37 di Jakarta, Boy menegaskan bahwa tantangan hari ini datang dari banyak arah—mulai dari tekanan ekonomi global, derasnya arus informasi, hingga dinamika sosial di dalam negeri. Dalam kondisi seperti itu, nilai kekeluargaan justru menjadi fondasi utama untuk menjaga ketahanan bangsa.

“Kita bangsa besar, tetapi kekuatan itu bisa rapuh kalau rasa saling menjaga mulai hilang. Jangan sampai tekanan ekonomi atau banjir informasi membuat kita kehilangan empati,” ujarnya.

Boy menilai ketahanan sosial harus dibangun dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan komunitas. Kebiasaan saling peduli, membantu sesama, serta menjaga harmoni sosial menjadi modal penting agar masyarakat tidak mudah terpecah saat menghadapi tekanan.

Selain soal solidaritas, ia juga menyoroti pentingnya pola konsumsi yang bijak di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Ia mengingatkan masyarakat untuk mendahulukan kebutuhan utama dan tidak terjebak dalam kepanikan yang justru mendorong perilaku konsumtif berlebihan.

“Memenuhi kebutuhan keluarga itu wajar, tapi jangan sampai berlebihan hingga merugikan orang lain. Kita harus tetap proporsional,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Boy juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kepercayaan terhadap lembaga negara. Kritik, menurutnya, adalah bagian penting dari demokrasi, tetapi tidak boleh berkembang menjadi sikap apatis yang justru memicu ketidakpastian.

Ia turut menyinggung peran media sosial yang kini menjadi ruang besar pembentukan opini publik. Karena itu, masyarakat diminta lebih bijak menggunakan platform digital agar tidak ikut menyebarkan narasi negatif atau ketakutan massal.

“Media sosial harus dipakai untuk membangun optimisme dan memperkuat persatuan, bukan menyebarkan kebencian,” katanya.

Ancaman hoaks pun menjadi perhatian serius. Boy menilai informasi palsu bukan sekadar kesalahan komunikasi, tetapi dapat memicu konflik sosial jika dibiarkan menyebar tanpa verifikasi.

“Jangan mudah percaya sebelum memeriksa kebenarannya. Disiplin memverifikasi informasi adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai warga negara,” ujarnya.

Acara reuni lintas generasi tersebut dihadiri sejumlah alumni SMA Negeri 37 Jakarta yang kini berkiprah di berbagai bidang, mulai dari birokrasi, militer, politik, hingga dunia teknologi. Momentum itu menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya lahir dari institusi formal, tetapi juga dari jejaring sosial yang terus terawat.