Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat ketahanan sosial serta membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya radikalisme dan terorisme sejak dini.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan upaya pencegahan terorisme tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat, menjadi faktor penting dalam membangun daya tangkal terhadap penyebaran ideologi kekerasan.
“Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat,” kata Eddy saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (5/8)..
Eddy menjelaskan, strategi penanggulangan terorisme yang dijalankan BNPT bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi, dan deradikalisasi. Ketiga pendekatan tersebut saling melengkapi dalam memperkuat sistem pencegahan sekaligus membangun ketahanan masyarakat terhadap pengaruh paham ekstrem.
Menurutnya, semakin luas kolaborasi yang dibangun bersama berbagai pemangku kepentingan, semakin kuat pula kemampuan masyarakat dalam menghadapi penyebaran propaganda radikalisme dan ideologi terorisme.
Sebagai lembaga yang bertugas merumuskan, mengoordinasikan, dan melaksanakan kebijakan nasional penanggulangan terorisme, BNPT terus memperluas kemitraan dengan berbagai organisasi keagamaan. Salah satu di antaranya adalah organisasi Islam Mathla’ul Anwar, yang dinilai memiliki jaringan luas hingga tingkat akar rumput.
Kerja sama tersebut diperkuat dalam pertemuan antara BNPT dan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar di Bogor, Jawa Barat, pada 21 Juli 2026. Melalui sinergi itu, kedua pihak berkomitmen memperluas edukasi, literasi, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, KH Jazuli Juwaini, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa menjaga Indonesia dari ancaman terorisme merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi seluruh komponen bangsa.
“Kami sangat berharap bahwa persoalan-persoalan bangsa, termasuk di dalamnya terorisme, yang tentu tidak bisa diselesaikan oleh sekelompok institusi dapat kita kolaborasikan. Kami sebagai organisasi Islam juga punya tanggung jawab kebangsaan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut dari kerja sama tersebut, Mathla’ul Anwar menyatakan kesiapan mendukung implementasi Program Desa Siapsiaga BNPT, khususnya di Provinsi Banten yang memiliki nilai historis sebagai daerah kelahiran organisasi tersebut.
Program Desa Siapsiaga dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengenali potensi penyebaran paham radikal, meningkatkan literasi kebangsaan, serta membangun sistem pencegahan berbasis komunitas yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah.
BNPT berharap kolaborasi dengan Mathla’ul Anwar dapat memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat, meningkatkan pemahaman mengenai bahaya radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial di berbagai daerah.
Sinergi tersebut juga menjadi bagian dari komitmen bersama bahwa menjaga Indonesia tetap aman, damai, dan harmonis bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan yang selama ini memiliki peran penting dalam membina kehidupan masyarakat.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!