Bandarlampung – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat pencegahan radikalisme di kalangan generasi muda melalui pendidikan wawasan kebangsaan, peningkatan literasi, dan sosialisasi di lingkungan sekolah. Langkah ini diarahkan untuk membangun daya tangkal pelajar terhadap penyebaran paham radikal, terutama melalui ruang digital.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan, upaya pencegahan menjadi bagian penting dari strategi penanggulangan terorisme di Indonesia. Perkembangan teknologi digital membuat penyebaran propaganda semakin mudah menjangkau kelompok muda sehingga membutuhkan pendekatan edukasi yang melibatkan berbagai pihak.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki landasan hukum dan kelembagaan untuk mendukung penanggulangan terorisme, salah satunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
“Dalam konteks nasional, Indonesia berada dalam status waspada terkendali. Artinya, ancaman itu ada, sementara terkendali karena negara hadir,” kata Eddy di Bandarlampung, Rabu.
Menurut Eddy, kehadiran negara dalam menghadapi ancaman terorisme tidak hanya diwujudkan melalui penegakan hukum, tetapi juga lewat langkah pencegahan yang menyentuh masyarakat. Karena itu, koordinasi antarlembaga diperlukan untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ideologi kekerasan.
Pemerintah, lanjutnya, melibatkan sejumlah lembaga terkait, termasuk BNPT, TNI, dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat koordinasi dalam menghadapi ancaman terorisme, termasuk yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.
Eddy menjelaskan, upaya pencegahan dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni deradikalisasi bagi kelompok yang telah terpapar paham radikal dan mitigasi untuk mencegah penyebaran paham tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Deradikalisasi diarahkan pada kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi, sedangkan mitigasi menitikberatkan pada penguatan pemahaman kebangsaan, peningkatan literasi, dan pendidikan. Dalam konteks ini, pelajar menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian melalui program edukasi yang sesuai dengan lingkungan dan perkembangan mereka.
“Program penguatan wawasan kebangsaan tersebut direncanakan menjangkau sekolah-sekolah dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan unsur kepemudaan,” kata Eddy.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi kebangsaan, tetapi juga membekali pelajar dengan kemampuan berpikir kritis saat menerima informasi di internet dan media sosial. Dengan demikian, mereka dapat lebih cermat mengenali propaganda, tidak mudah terpengaruh ajakan kekerasan, serta memahami pentingnya menghargai perbedaan.
Pelibatan pemerintah daerah dan unsur kepemudaan juga menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan edukasi. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial perlu saling mendukung agar nilai kebangsaan, toleransi, dan penolakan terhadap kekerasan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penguatan literasi dan pendidikan wawasan kebangsaan, BNPT berharap pencegahan dapat dilakukan sejak dini, sehingga generasi muda memiliki bekal untuk menghadapi beragam narasi ekstrem di ruang digital maupun lingkungan sosial.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!