BNPT Gandeng Pengguna Internet Aktif Cegah Terorisme

Palu – Dalam pencegahan tindak terorisme, media massa memiliki posisi penting untuk pencegahan penyebaran ideologi dan paham kelompok teroris, namun dalam posisi lain, media massa juga bisa membantu penyebarannya. Untuk itu, perlu peningkatan kesadaran media untuk menyaring berbagai isu yang berkaitan dengan penyebaran ideologi kelompok-kelompok garis keras tersebut.

Namun, pada saat bersamaan, perkembangan teknologi penyebaran ideologi dan paham terorisme, yaitu era internet yang dengan mudahkanya dapat diakses seluruh kalangan masyarakat, mulai usia rentan hingga dewasa.

Dalam banyak kasus terorisme, media massa sering jadi bulan-bulanan publik, utamanya dari kelompok-kelompok yang merasa dirugikan dengan pemberitaan media mainstream. Sementara media mainstream harus berpacu dengan kencang, melawan kecepatan akses informasi melalui internet, utamanya yang menggunakan situs-situs jejaring sosial.

Sehingga, dalam hal ini masyarakat juga harus memiliki dan diberikan pemahaman, tentang bagaimana menilai suatu berita, serta melihat media yang bisa untuk dijadikan rujukan informasi.

“Selama media mempublikasikan media sesuai dengan kode etik jurnalistik, maka media tersebut akan aman. Media yang jujur, harus juga mencantumkan sususan redaksi,” kata perwakilan PWI Sulteng, Rahmad Bakri.

Hal ini jadi pembahasan dalam dialog publik, yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bertempat di Hotel Sutan Raja, Jalan Abdul Rahman Saleh, Jumat (31/7).

Sebagai peserta dalam kegiatan ini, selain dari kalangan media massa di Kota Palu, juga para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan mahasiswa.

Deputi Pencegahan BNPT, Brigjend Polisi Hamidin mengatakan, penyebaran ideologi dan paham teroris, selama ini menggunakan pendekatan kekeluargaan, pertemanan dan yang terakhir menjadikan penjara sebagai pesantren.

Pada kegiatan ini, BNPT memperkenalkan kepada peserta, sekaligus berusaha menggandeng peserta untuk terlibat dalam kampanye damai melalui Pusat Media Damai (PMD), dengan nama situs www.damai.id, yang diterangkan redaktur PMD, Khoirul Anam.

Khoirul Anam menerangkan, melalui program itu diharapkan nantinya bisa dibentuk komunitas cinta damai, cinta NKRI, dan komunitas yang punya nasionalisme tinggi, sehingga mereka tidak ingin Indonesia dipenuhi hasutan dan kekerasan yang ujung-ujungnya adalah terorisme.

“Artinya, kita berkumpul di sini untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang NKRI dalam format kedamaian. Mari kita bergabung bersama menciptakan perdamaian di dunia maya,” kata Anam.

Para pemuda diajak menyemarakkan dunia maya dengan berbagai konten damai untuk mengimbangi pesan-pesan penuh kekerasan dan konten negatif lainnya.

“Artinya, kalau mereka bicara kekerasan, kita akan imbangi dengan bicara kelembutan,” kata Anam.

Menurut Agus, anak muda utamanya kalangan pekerja media dipilih untuk mengikuti acara ini, karena berdasarkan data yang didapat dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2014, hampir separuh pengguna Internet adalah generasi muda yang lahir setelah tahun 1980.

“Dan tentunya generasi muda menjadi sangat rawan bagi penyebaran konten negatif yang bernuansa kekerasan dan penghasutan,” kata Anam.(ms)

Disunting dari: palu.aji.or.id