Bhinneka Tunggal Ika untuk Dunia: Menawarkan Diplomasi ‘Jalan Tengah’ di Tengah Persaingan Kekuatan Global

Kondisi geopolitik terkini yang kian memanas semakin menguatkan dugaan akan kembalinya dua kutub kekuatan dunia, antara Amerika Serikat dengan China ataupun Rusia. Ini menunjukkan kemungkinan terjadinya Perang Dingin jilid II.

Indonesia harus bisa memainkan posisi strategisnya sebagai salah satu negara yang mempelopori gerakan non-blok di dunia. Gerakan ini adalah implementasi dari prinsip “politik bebas-aktif” yang sejak lama sudah digagas oleh para pendiri bangsa.

Prinsip bebas-aktif yang dimiliki Indonesia pun tidak datang begitu saja. Ia lahir dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang esensinya menghargai perbedaan sekaligus memprioritaskan titik temu dari segala kemajemukan. Tidak hanya sebagai nilai yang dipahami secara domestik saja, ia juga mampu berfungsi secara universal sebagai model diplomasi “jalan tengah” bagi dunia yang terbelah.

Konflik global yang diprakarsai oleh negara-negara adidaya ini seringkali menimbulkan kerusakan tambahan (collateral damage) bagi negara-negara lain yang memiliki hubungan diplomatis dengan mereka. Hal ini memicu instabilitas secara luas, tidak hanya urusan politik, namun lambat laun akan menjalar ke persoalan sosial dan ekonomi yang menjadi semakin tak menentu.

Satu hal yang patut disayangkan, ambisi dari pihak-pihak yang secara aktif terlibat konflik ini seringkali disamarkan dengan konflik ideologi, seperti kapitalisme versus komunisme, liberalisme versus konservatisme, dan sebagainya. Hal ini seolah ingin mengesankan bahwa konflik multilateral yang terjadi adalah karena perbedaan ideologi yang tajam, walaupun nyatanya tidak demikian. 

Andaikata benar ini adalah konflik ideologis, sejarah mencatat berulang-ulang bahwa pemaksaan satu sistem atau ideologi tunggal bagi keseluruhan umat manusia di dunia cenderung destruktif. Kini, paradigma semacam itu tidak lagi relevan bagi hajat hidup manusia.

Menghadapi situasi dunia yang semakin tak menentu ini, beruntung Indonesia telah sejak lama menggagas konsep Bhinneka Tunggal Ika. Konsep ini telah terbukti menghasilkan harmoni dan kebersamaan anak bangsa, tanpa menghapuskan identitas masing-masing suku atau budaya.

Sebagai negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia, Indonesia juga telah berhasil menerapkan konsep moderasi beragama atau wasathiyah, yang sejalan dengan Bhinneka Tunggal Ika dalam hal menjunjung tinggi dialog dan perjumpaan demi menekan kemungkinan terjadinya konfrontasi antargolongan.

Jika Indonesia saja, sebagai negara yang hingga kini belum masuk pada klasifikasi negara maju atau bahkan adidaya bisa menyatukan banyak golongan, maka negara-negara lain yang lebih maju dan berkembang seharusnya bisa meniru Indonesia dalam menjamin kesetaraan. Tidak hanya setara di dalam negerinya masing-masing, para negara maju ini harus bisa melihat negara-negara lain sebagai mitra yang setara, walaupun memiliki perbedaan secara ideologis ataupun dari aspek lainnya.

Dalam perhelatan G20, Indonesia mampu memainkan peran strategis sebagai jembatan atau bridge builder yang mampu merangkul berbagai kubu yang berseteru melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif yang sejalan dengan semangat nonblok. Hal ini dibuktikan dengan keberanian Indonesia untuk menyuarakan kembali two-state solution bagi Palestina-Israel.

Di tengah tajamnya polarisasi kekuatan besar dunia, Indonesia konsisten mengedepankan kepemimpinan yang inklusif dengan menempatkan agenda kemanusiaan dan pembangunan global di atas kepentingan politik sempit, sehingga mampu menjaga integritas forum tersebut agar tetap menjadi ruang dialog yang produktif bagi semua pihak.

Demi melaksanakan  salah satu amanat konstitusi, yakni menjaga perdamaian dunia, Indonesia harus ambil peran dalam merangkul semua pihak yang berkonflik. Melalui penerapan Bhinneka Tunggal Ika yang sudah sejak lama, rasanya pantas bagi Indonesia untuk menjadi teladan, bahwa penanaman pengaruh tidak melulu soal kekuatan militer, melainkan melalui supremasi nilai uang berbasis inklusivitas dan kemanusiaan.

Memperkenalkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai gagasan solutif bagi perdamaian bangsa-bangsa jelas tidak mudah. Indonesia perlu meyakinkan para negara adidaya untuk menurunkan ego mereka demi kepentingan yang lebih besar dan mulia, yakni tegaknya persaudaraan antar sesama manusia.

Barangkali Indonesia perlu mempertahankan konsistensi dalam menjaga kehidupan kenegaraan yang majemuk, agar bisa dilirik sebagai role model yang berhasil mempersatukan perbedaan. Harapannya, kemajemukan berbagai negara tidak dianggap sebagai potensi terjadinya perpecahan, melainkan sebagai kekuatan kolektif yang saling menutupi kekurangan yang ada.

Sebagai negara yang berdiri di atas banyaknya suku, budaya, golongan, dan agama yang berbeda, Indonesia patut mengenalkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kontribusi intelektual dan spiritual bagi perdamaian dunia.

Indonesia selayaknya hadir dan membawa cahaya bagi peradaban dunia. Melalui Indonesia, dunia internasional bisa melihat bahwa perbedaan adalah keniscayaan, karena perpecahan adalah pilihan yang bisa dihindari.