Bandung – Sebagai generasi penerus bangsa yang sebagian besar bercita-cita ingin melanjutkan Pendidikan ke Akademi Militer (Akmil) ataupun Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya, generasi muda harus memegang teguh ideologi bangsa yakni Pancasila serta dapat mengenali ciri-ciri dan mewaspadai bahaya penyebaran paham radikalisme dan terorisme yang ada di lingkungan sekitarnya.
Hal tersebut dikatakan Kasubdit Kontra Propaganda (KP) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono, SH, M.Krim, saat menjadi narasumber pada acara Pembekalan Diklat Kader Muda Bela Negara bagi 262 siswa kelas XI SMA Terpadu Krida Nusantara dan perwakilan siswa dari SMA yang ada di Kota Bandung, Cimahi dan Bekasi yang berlangsung di GOR Krida Nusantara, Bandung, Rabu (15/4/2026).
“Siapa diantara adik-adik semuanya disini yang ingin bercita-cita untuk melanjutkan Pendidikan ke Akademi Militer (Akmil) atau perguruan tinggi kedinasan?,” ujar Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono menanyakan kepada para siswa sebelum memulai paparan materinya.
Sontak pertanyaan Kolonel Hendro itupun langsung disambut acungan tangan hampir seluruh siswa putra maupun putri yang hadir dalam pembekalan tersebut. Melihat hal tersebut tentunya Kasubdit KP memulai materinya bahwa untuk memiliki cita-cita mulia tersebut para siswa harus mewaspadai ideologi transnasional yang merebak kepada kalangan generasi muda.
“Tadi saya tanya ke kalian yang bercita-cita ingin melanjutkan ke Akmil atau perguruan tinggi kedinasan lainnya ini luar biasa, hampir semuanya ingin kesana (Akmil atau perguruan tinggi kedinasan). Oleh sebab itu kalau ingin jadi ke Akmil dan sekolah kedinasan kalian harus mengerti dan mengenali bahaya penyebaran paham radikalisme dan terorisme yang saat ini masif terjadi di lingkungan sekitar kita,” ujar Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono.
Apalagi menurut Kasubdit KP, Indonesia memiliki ideologi Pancasila sebagai dasar negara bangsa ini. Yang mana Pancasila ini memiliki basic beliefs yaitu, Nilai Ketuhanan, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, Nilai Kerakyatan dan Nilai Keadilan Sosial. Penguatan 4 Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Konsensus Kebangsaan harus terus diperkuat di kalangan siswa
“Hal tersbut yang harus kalian perkuat kalau bercita-cita ke Akmil tadi. Apalagi bangsa kita ini adalah negara majemuk, negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, punya 300 kelompok etnik, 1.340 suku, 652 bahasa daerah, 6 agama dan 187 penghayat kepercayaan. Sebagai negara majemuk, Indonesia diikat dengan ideologi Pancasila itu tadi yang mamayungi semua unsur etnik, suku, agama, bahasa dan sebagainya,” ujarnya.
Oleh karena itu para siswa menurutnya, harus mewaspadai ideologi-ideologi lain yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang saat ini masif menyebar di masyarakat yang disebarkan oleh kelompok-kelompok radikal terorisme tersebut.
“Yang perlu diwaspadai yakni mereka ini kadang Bertaqiyah dimana mereka berpura-pura, seolah olah mengakui Pancasila, NKRI, tetapi sebenarnya mereka punya agenda terselubung untuk mengganti ideologi bangsa ini,” ujar Alumni Akmil tahun 1996 ini mengatakan.
Kepada para siswa dirinya mengungkapkan bahwa sudah menjadi nilai tambah bagi para siswa yang bersekolah di SMA Krida Nusantara ini jika ingin melanjutkan ke Akmil, karena sudah memiliki dasar-dasar Pendidikan karakter yang diajakan di sekolah tersebut.
“Kalau ingin ke Akmil, adik-adik ini yang bersekolah disini sudah sangat beruntung sekali, Karena disini sudah diajakan pendidikan karakter, kedisiplinan, wawasan kebangsaan dan sebagainya. Ini nanti tidak berbeda jauh dengan apa yang akan diajarkan di Akmil. Kalian sudah punya modal, apalagi saya dengar dari sekolah ini banyak yang keterima di Akmil (Akademi TNI) dan sekolah kedinasan,” ujar alumni Akmil tahun 1996 ini.
Dalam pemaparan yang langsung diselingi dengan sesi tanya jawab tersebut Kasubdit KP juga mengatakan bahwa, berdasarakan hasil survey yang dilakukan lembaga survey, saat ini kalangan perempuan, anak-anak dan remaja menjadi target utama untuk direkrut oleh kelompok radikal terorisme tersebut.
“Apalagi saat ini jamannya sudah era digital, pakai internet. Dan mereka melakukan penyerbarannya melalui media sosial. Apalagi kalian sebagai generasi muda sudah memiliki akun media sosial, meski di sekolah ini anda tidak boleh membawa laptop dan handphone, tetapi di rumah saat menggunakan laptop dan handphone kalian harus waspada,” ujarnya.
Lebih lanjut Kasubdit KP menjelaskan seseorang menjadi teroris itu tidak datang secara tiba tiba.. Tetapi bermula dari sikap Intoleran atau Penolakan Seseorang Terhadap Hak-hak Politik dan Sosial dari kelompok yang ia tidak setujui. Kemudian naik menjadi Radikalisme, dimana suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrim.
“Dan mereka menyuburkan sikap Intoleran, Anti Pancasila, Anti NKRI, Penyebaran Paham Takfiri dan menyebabkan Disintegrasi Bangsa. Setelah itu baru naik menjurus menjadi Teroris, dimana mereka melakukan perbuatan yang menggunakan kekerasan seperti melakukan pengeboman. Itulah ciri-ciri yang wajib kalian ketahui,” ujar Kasubdit KP.
Dikatakan mantan Kasi Penggalangan BNPT ini, para siswa juga harus dapat membedakan pola pergerakan kelompok terorisme lama dan pola baru. Dimana dinamika propaganda dan rekrutmen pelaku terorisme bisa dilihat dari pola gaya terorisme lama yang melalui kekeluargaan, pertemanan, ketokohan dan lembaga keagamaan serta dilakukan secara rekrutmen tertutup dan pembaiatan langsung.
“Sedangkan pola rekruitmen terorisme gaya baru ini melalui website, media sosial dan social messenger serta dilakukan secara rekrutmen terbuka dan pembaiatan lewat media. Bahkan tempat yang rentan untuk rekrutmen kelompok teroris itu ada di rumah ibadah, lembaga pendidikan, friendship dan media internet,” ujarnya.
Untuk itu mantan Wakil Kepala Peralatan Kodam (Wakapaldam) XVI/Pattimura ini mengingatkan kepada para siswa jika menemukan orang ataupun kelompok yang memiliki ciri-ciri seperti itu di lingkungan sekitarnya diminta untuk melaporkan ke tenaga pendidik atau aparat RT/RW atau aparat setempat jika ada di lingkungan tempat tinggalnya.
“Dan yang lebih penting lagi kalian para siswa harus dapat memilih guru yang tepat dan kredibel agar tidak salah dalam memberikan pengajaran kepada kalian. Utamanya yang memberikan materi pengajaran masalah wawasan keagamaan ataupun wawasan kebangsaan. Karena kalau kalian salah dalam memilih guru dibidang tersebut, tentunya bukan tidak mungkin kalian akan digiring ke dalam hal-hal yang bisa bersifat intoleran dan radikal,” ujar Kasubdit KP mengakhiri paparannya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!