Yogyakarta — Ancaman radikalisme terhadap generasi muda kini berubah wajah. Jika dulu penyebarannya identik dengan pertemuan tertutup atau doktrin langsung, kini propaganda ekstrem justru semakin banyak bergerak di ruang digital—mulai dari media sosial, grup percakapan, hingga platform permainan daring yang akrab dengan kehidupan remaja.
Fenomena ini menjadi perhatian serius MAN 1 Yogyakarta. Untuk memperkuat kewaspadaan siswa, sekolah tersebut menggelar sosialisasi deteksi dini radikalisme dengan menghadirkan Tim Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri, Rabu (20/5).
Dalam paparannya, narasumber dari Densus 88, Octaviani, menegaskan bahwa remaja menjadi target yang rentan karena masih berada dalam fase pencarian jati diri dan relatif mudah dipengaruhi narasi ekstrem.
“Radikalisme itu biasanya berawal dari intoleransi. Ketika seseorang mulai tidak menghargai perbedaan, di situlah pintu awal masuknya paham radikal terbuka,” ujar Octaviani di hadapan para siswa.
Ia menjelaskan, pola rekrutmen kelompok radikal kini jauh lebih halus. Konten-konten yang terlihat biasa di media sosial bisa menjadi pintu masuk karena diperkuat algoritma yang terus menampilkan narasi serupa kepada pengguna.
Tak hanya itu, Densus 88 juga menyoroti penyalahgunaan fitur percakapan dalam sejumlah game populer seperti Roblox, Free Fire, dan Mobile Legends: Bang Bang. Menurut Octaviani, ruang obrolan dalam game kerap dimanfaatkan untuk pendekatan awal karena berlangsung santai dan sulit terdeteksi.
“Anak-anak merasa sedang bermain, padahal bisa saja sedang dibangun kedekatan oleh pihak yang punya agenda tertentu,” katanya.
Selain game online, keberadaan komunitas digital tertutup juga menjadi perhatian. Salah satunya adalah kelompok True Crime Community (TCC) yang disebut pernah menjadi medium penyebaran ideologi kekerasan di kalangan remaja.
Densus 88 menilai faktor seperti bullying, minimnya komunikasi dalam keluarga, hingga rasa kesepian sering menjadi celah yang dimanfaatkan kelompok radikal untuk mendekati anak muda.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, menegaskan sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam membangun ketahanan mental dan digital siswa.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga punya daya tahan terhadap pengaruh negatif dunia digital,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan nilai toleransi, moderasi beragama, dan karakter positif harus terus ditanamkan agar siswa memiliki filter ketika berhadapan dengan derasnya arus informasi di internet.
Melalui kegiatan ini, para siswa diingatkan bahwa apa yang mereka lihat di layar tidak selalu netral. Algoritma dapat membentuk cara pandang seseorang. Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan memverifikasi informasi menjadi senjata utama untuk menghadapi ancaman radikalisme di era digital.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!