Pati – Upaya menjaga stabilitas nasional dari ancaman ideologi ekstrem tidak hanya dilakukan di tingkat pusat, tetapi harus menyentuh hingga ke pelosok desa. Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga kondusivitas wilayah, sebuah langkah preventif digelar di Desa Godo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Melalui kegiatan penyuluhan yang digagas secara kolaboratif, aparat keamanan berusaha memperkuat wawasan kebangsaan warga agar tidak mudah terpapar paham radikalisme yang dapat merusak tenun sosial masyarakat desa.
Dalam forum yang dihadiri oleh berbagai lapisan warga tersebut, Aipda Bibit Widodo selaku Bhabinkamtibmas Desa Godo bertindak sebagai narasumber utama. Ia secara mendalam memaparkan bagaimana bahaya radikalisme dapat merayap masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat tanpa disadari.
“Saya merasa sangat penting untuk menyampaikan pemahaman ini agar setiap warga memiliki kewaspadaan terhadap bahaya radikalisme yang secara nyata dapat mengancam persatuan bangsa kita,” ungkap Aipda Bibit Widodo pada Sabtu (9/5).
Ia memilih menggunakan pendekatan dialogis agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima oleh masyarakat awam. “Tujuan saya adalah menjelaskan ciri-ciri paham radikal secara sederhana, sehingga Bapak dan Ibu sekalian bisa menangkalnya sejak dini, terutama mulai dari lingkungan keluarga masing-masing,” tambahnya dengan penuh penekanan.
Di sisi lain, kehadiran Babinsa Desa Godo, Serda Sujono, semakin mempertegas sinergi antara TNI dan Polri dalam menjaga kedaulatan ideologi Pancasila. Serda Sujono mengajak warga untuk menempatkan kerukunan dan cinta tanah air sebagai prioritas utama dalam kehidupan bertetangga.
“Saya sangat berharap agar masyarakat di sini selalu menjaga kerukunan dan terus meningkatkan rasa cinta kepada tanah air dalam setiap tindakan,” tutur Serda Sujono dalam orasinya. Beliau mengingatkan bahwa keamanan desa bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan tugas kolektif seluruh warga. “Bagi saya, peran aktif warga dalam menjaga stabilitas keamanan desa sangatlah vital, terutama untuk tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi hoaks yang belum jelas kebenarannya,” tegasnya.
Respons positif terlihat dari antusiasme masyarakat yang mengikuti jalannya diskusi hingga akhir. Warga tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi aktif mengajukan pertanyaan terkait langkah-langkah praktis dalam menghadapi orang atau kelompok yang mencurigakan di lingkungan mereka.
“Saya melihat antusiasme yang luar biasa ini sebagai tanda bahwa masyarakat kita sebenarnya memiliki keinginan besar untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujar Serda Sujono memberikan apresiasi atas partisipasi warga. Melalui penyuluhan ini, aparat berharap warga Desa Godo dapat bertransformasi menjadi agen perdamaian yang memiliki “imunitas” kuat terhadap ajakan-ajakan yang bersifat memecah belah.
Kolaborasi antara Bhabinkamtibmas dan Babinsa ini menjadi bukti bahwa sinergi TNI-Polri tetap menjadi pilar utama dalam pertahanan non-militer. Dengan wawasan kebangsaan yang kuat, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek pengamanan, tetapi mampu menjadi subjek yang mandiri dalam mendeteksi dan menolak paham radikal.
“Harapan besar saya adalah agar kita semua di Desa Godo bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai ancaman ideologi yang merusak,” pungkas Aipda Bibit Widodo.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!