Bangun Inklusifitas, Kampus Didorong Perbanyak Ruang Interaksi Lintas Keyakinan dan Budaya

SEMARANG — Menteri Koordinator Dinamisasi Kampus BEM KM Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2026, Wisnu Jati Priyantoro, mendorong mahasiswa untuk membangun pola pikir yang inklusif melalui interaksi lintas budaya dan keyakinan. Langkah proaktif ini dinilai krusial agar mahasiswa memiliki wawasan yang lebih terbuka dalam merawat keberagaman di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Wisnu menyoroti kebiasaan bergaul dalam lingkaran yang sama atau homogen yang dinilai sering kali membawa dampak negatif. Ketiadaan ruang dialog dan interaksi lintas kelompok membuat mahasiswa rentan membangun prasangka sosial dan sulit menerima perbedaan.

“Pergaulan yang homogen sering kali membawa dampak negatif. Ketiadaan interaksi lintas kelompok membuat seseorang rentan membangun prasangka dan mudah termakan stereotip yang belum tentu benar,” tegas Wisnu, seperti yang dikutip dari laporan rri.co.id, Selasa (15/9).

Guna mencegah terbangunnya sekat-sekat sosial tersebut, ia menekankan perlunya ruang perjumpaan antar-mahasiswa dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu akademik, tetapi juga menjadi wadah strategis untuk mempraktikkan toleransi dan meruntuhkan stigma.

Lebih lanjut, inisiatif untuk memperbanyak interaksi silang budaya ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial. Mahasiswa dituntut untuk keluar dari zona nyaman mereka dan mulai menjalin komunikasi yang setara dengan berbagai kelompok lintas agama dan etnis.