Jember – Di saat kelompok-kelompok radikal semakin lihai menyusupkan narasi kebencian dan ideologi ekstrem ke dalam kehidupan generasi muda melalui media sosial, platform digital, hingga aplikasi percakapan sehari-hari, Pemerintah Kabupaten Jember memilih untuk tidak tinggal diam.
Melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), program “Bakesbangpol Masuk Sekolah” digelar di SMA Al Furqon Jember sebagai wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam membentengi generasi penerus bangsa dari ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang kian mengancam dari berbagai arah. Acara ini diselenggarakan pada Kamis (9/4) pekan lalu.
Sekitar 100 siswa mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari, dengan melibatkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Materi yang disajikan mencakup wawasan kebangsaan, pencegahan radikalisme, moderasi beragama, literasi digital, hingga bahaya penyalahgunaan narkoba.
Rangkaian materi ini bukan disusun secara kebetulan. Ia mencerminkan pemahaman bahwa radikalisasi dan intoleransi tidak datang sendiri, melainkan sering kali berjalan beriringan dengan lemahnya literasi digital, rendahnya daya kritis terhadap informasi, dan renggangnya ikatan kebangsaan dalam diri seorang pelajar.
Kepala SMA Al Furqon Jember, Indira Bagus Setiadi, menyuarakan kekhawatiran yang kini dirasakan oleh banyak pendidik di seluruh Indonesia.
“Pelajar perlu memiliki kemampuan menyaring informasi dan pengaruh dari luar agar tetap berpegang pada nilai persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat bahwa sepanjang 2025 ditemukan lebih dari 21.000 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di ruang digital Indonesia. Yang lebih mengkhawatirkan, proses radikalisasi melalui media sosial kini hanya membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan, jauh lebih cepat dibandingkan cara-cara konvensional yang sebelumnya bisa memakan waktu bertahun-tahun. Anak-anak muda yang belum memiliki fondasi kebangsaan yang kuat adalah sasaran paling empuk bagi propaganda ekstremis yang dikemas dalam konten-konten menarik dan mudah dikonsumsi.
Kepala Bidang Wawasan Kebangsaan dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Jember, M. Syamsu Rijal, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Generasi muda tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki karakter, integritas, dan semangat nasionalisme,” katanya.
Pernyataan tersebut menyentuh inti dari persoalan yang selama ini menjadi celah dimanfaatkan oleh kelompok radikal. Kecerdasan akademik tanpa dibekali dengan kecerdasan ideologis dan ketahanan karakter justru bisa menjadi bumerang. Tidak sedikit kasus radikalisasi yang menjerat individu berpendidikan tinggi, bahkan mahasiswa dari kampus-kampus ternama, karena mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengenali dan menolak narasi-narasi ekstremis yang terbalut argumen-argumen yang terkesan logis dan meyakinkan.
Materi moderasi beragama yang disisipkan dalam kegiatan ini memiliki peran yang sangat vital sebagai kontranarasi langsung terhadap ideologi intoleran. Salah satu pintu masuk utama radikalisasi di Indonesia adalah narasi keagamaan yang dipersempit, ditafsirkan secara sepihak, dan digunakan untuk membenarkan sikap kebencian terhadap kelompok lain. Dengan memperkenalkan konsep moderasi beragama sejak dini, para pelajar diajak untuk memahami bahwa perbedaan keyakinan dan latar belakang bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama sebagai bangsa yang majemuk.
Sesi literasi digital yang diberikan oleh para narasumber juga menjadi senjata ampuh dalam peperangan kontranarasi di era modern ini. Dalam forum tersebut, para siswa diingatkan pentingnya memanfaatkan media sosial secara bijak serta menghindari konten yang berpotensi memecah persatuan. Kemampuan mengenali hoaks, memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta memahami bahwa tidak semua konten viral di media sosial mencerminkan kebenaran, adalah keterampilan kritis yang kini setara pentingnya dengan kemampuan membaca dan menulis di era digital.
Melalui program “Bakesbangpol Masuk Sekolah” ini, Kabupaten Jember telah membuktikan bahwa pemerintah daerah pun bisa menjadi aktor aktif dalam ekosistem kontranarasi nasional. Ketika nilai-nilai kebangsaan disemai dengan sungguh-sungguh di ruang kelas, hasilnya bukan hanya pelajar yang hafal Pancasila, melainkan generasi muda yang benar-benar menghirup, menghayati, dan siap mempertahankan nilai-nilai tersebut di mana pun mereka berada, termasuk di tengah derasnya arus informasi dan godaan narasi ekstremis yang mengintai di setiap sudut layar gawai mereka.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!