JAKARTA – Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta melalui Kantor Bantuan Anti Terorisme (Anti-Terrorism Assistance/ATA) menggelar pelatihan Investigasi Dark Web (IDW) bagi personel Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, pada 8–12 Juni 2026 di Markas Besar Polri, bertujuan memperkuat kemampuan aparat dalam menangani ancaman terorisme di ruang siber.
Program tersebut membekali peserta dengan pengetahuan mengenai cara kelompok teroris memanfaatkan Dark Web sebagai sarana komunikasi, pertukaran informasi, hingga aktivitas ilegal lainnya. Selain itu, peserta juga mendapatkan pelatihan tentang teknik penyelidikan, pengumpulan bukti digital, serta dokumentasi aktivitas yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme untuk mendukung kepentingan intelijen maupun proses penegakan hukum.
Juru Bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jamie Ravetz, mengatakan pemerintah AS berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas aparat penegak hukum Indonesia dalam menghadapi ancaman terorisme yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital.
“Amerika Serikat bangga dapat mendukung personel penegak hukum Indonesia dalam memperkuat kemampuan menghadapi ancaman terorisme yang terus berkembang di ruang digital,” ujar Ravetz.
Menurutnya, Dark Web semakin sering dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk mendukung berbagai aktivitas mereka. Karena itu, penguatan kemampuan penyidik menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keamanan dan meningkatkan efektivitas penegakan hukum.
“Pelatihan ini mencerminkan eratnya kemitraan kontraterorisme antara Amerika Serikat dan Indonesia,” katanya.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat selama ini secara rutin memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada aparat penegak hukum di berbagai negara untuk meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi, menyelidiki, menangani, serta menuntut pelaku tindak pidana terorisme.
Sejak menjalin kerja sama dengan Indonesia, Departemen Luar Negeri AS telah melaksanakan 427 program pelatihan kontraterorisme yang menjangkau hampir 8.000 personel aparat penegak hukum dan petugas tanggap darurat. Program tersebut menjadi bagian dari kerja sama bilateral kedua negara dalam memperkuat kapasitas penanggulangan terorisme, termasuk menghadapi ancaman yang berkembang di dunia maya. Melalui pelatihan Investigasi Dark Web ini, diharapkan personel Polri semakin siap menghadapi tantangan kejahatan siber yang memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pendukung aktivitas terorisme, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!