Damaskus – Pasukan Amerika Serikat bersama mitra koalisinya melancarkan serangan udara skala besar yang menargetkan posisi kelompok militan ISIS di wilayah Suriah pada Minggu (11/1/2026). Operasi militer masif ini dikonfirmasi langsung oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) sebagai respons tegas atas penyergapan mematikan yang menewaskan personel AS di Palmyra bulan lalu.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari “Operasi Hawkeye Strike” yang menargetkan infrastruktur dan lokasi persembunyian ISIS. Meskipun tidak merinci lokasi spesifik, video udara yang dirilis CENTCOM menunjukkan sejumlah ledakan besar menghantam area pedesaan yang diduga menjadi basis pertahanan kelompok ekstremis tersebut.
“Pesan kami tetap kuat: jika Anda menyakiti prajurit kami, kami akan menemukan Anda dan membunuh Anda dimanapun di dunia ini, tidak peduli seberapa keras Anda mencoba menghindari keadilan,” tegas CENTCOM dalam pernyataannya, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (11/1).
Operasi ini dipicu oleh insiden pada 13 Desember 2025, di mana anggota ISIS menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut merespons operasi ini melalui media sosial. “tidak akan pernah lupa dan tidak akan pernah menyerah,” ungkap Pete Hegseth di akun @PeteHegseth pada platform X pada 10 Januari 2026.
Sebelum serangan akhir pekan ini, AS telah melakukan serangkaian operasi pendahuluan pada Desember lalu yang menghantam lebih dari 70 target ISIS dan menewaskan atau menangkap sekitar 25 militan.
Meski telah kehilangan wilayah kekuasaan utamanya pada 2019, sisa-sisa pejuang ISIS diketahui masih mempertahankan sel-sel tidur di kawasan gurun Suriah dan terus menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan. Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya skeptis terhadap kehadiran militer di Suriah, mengecam keras serangan terhadap warganya dan menjanjikan pembalasan serius.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!