BANDAR LAMPUNG — Film Ageman, karya sinematik pemuda Lampung yang mengangkat kisah nyata perjalanan eks aktivis radikal Ken Setiawan, mendapat perhatian dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI).
Film edukasi bertema toleransi tersebut dinilai dapat menjadi medium komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan perdamaian, kebinekaan, dan kontra-radikalisme, terutama kepada kalangan generasi muda.
Kepala BNPT RI Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., mengatakan penggunaan media audio-visual memiliki karakter komunikasi yang lebih persuasif karena pesan disampaikan melalui cerita yang dekat dengan pengalaman kehidupan masyarakat.
“Pemanfaatan media film bertema toleransi Ageman ini sangat selaras dengan strategi BNPT dalam menjalankan fungsi kontra-radikalisasi. Film menjadi media komunikasi yang persuasif untuk menyampaikan pesan perdamaian dan kebinekaan dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ujar Eddy Hartono dikutip dari laman viva.co.id, Kamis (24/9).
Menurut Eddy, kekuatan Ageman tidak hanya terletak pada tema toleransi yang diangkat, tetapi juga pada kisah nyata yang menjadi dasar cerita film tersebut.
Tokoh Ken Setiawan dalam film itu merupakan mantan anggota jaringan radikal yang kemudian mengalami perubahan pemikiran. Kini, Ken aktif dalam kegiatan pencegahan terorisme sebagai Kabid Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung.
Eddy mengatakan perjalanan perubahan pemikiran tersebut dapat menjadi pembelajaran mengenai pentingnya kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis, dialog terbuka, serta lingkungan sosial yang positif.
“Transformasi Ken Setiawan dari paham radikal menjadi moderat membuktikan bahwa pemahaman radikal dapat diubah melalui kesadaran diri, dialog terbuka, serta lingkungan sosial yang positif,” katanya.
Film Jadi Ruang Edukasi Generasi Muda
Sementara itu, Produser Eksekutif Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Lampung, Dr. M. Firsada, mengatakan produksi film tersebut menggunakan pendekatan pentahelix dengan melibatkan berbagai unsur dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap penyebaran paham radikal dan terorisme.
Menurut Firsada, pendekatan melalui film diperlukan untuk menghadirkan pesan kebangsaan di ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda.
“Film Ageman adalah cara efektif untuk mengisi ruang kosong anak-anak muda lewat pesan kebangsaan,” ujar Firsada.
Ia berharap Ageman dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas sehingga pesan mengenai toleransi dan kerukunan tidak hanya berhenti di ruang-ruang diskusi formal.
“Harapannya, film ini dapat ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk mengumandangkan toleransi serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman,” pungkasnya.
Melalui pendekatan cerita dan pengalaman nyata, Ageman sekaligus membawa pesan bahwa upaya pencegahan radikalisme tidak hanya dapat dilakukan melalui forum formal, tetapi juga melalui medium kreatif yang mampu menjangkau generasi muda dalam bahasa yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!