Antisipasi Terorisme hingga Konflik Sosial, Puluhan Perwira TNI-Polri Ikuti Latihan Rentinkon

Denpasar – Ancaman terhadap keamanan nasional tidak lagi hanya berasal dari konflik bersenjata. Bencana alam, aksi terorisme, konflik sosial, hingga dinamika kawasan perbatasan kini menjadi tantangan yang menuntut kesiapan aparat dalam mengambil keputusan secara cepat dan terukur.

Berangkat dari tantangan tersebut, sebanyak 41 perwira TNI dan Polri mengikuti Latihan Penyusunan Rencana Tindakan Kontinjensi (Rentinkon) di Markas Kodam IX/Udayana, Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu menjadi bagian dari pembentukan calon pemimpin yang mampu merancang strategi penanganan berbagai situasi darurat secara terpadu.

Latihan diikuti oleh 36 perwira TNI dan lima perwira Polri sebagai Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI.

Pembukaan latihan dipimpin Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Sesko TNI yang mempercayakan Kodam IX/Udayana sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan.

Menurut Piek, latihan tersebut memiliki nilai strategis karena tidak hanya mengasah kemampuan analisis, tetapi juga melatih peserta dalam menyusun perencanaan, membangun koordinasi lintas sektor, serta mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi situasi krisis.

“Kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam meningkatkan kemampuan analisis, perencanaan, koordinasi, dan pengambilan keputusan bagi para Perwira Siswa, sehingga mampu menyusun rencana tindakan kontinjensi yang realistis, terukur, dan aplikatif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, wilayah kerja Kodam IX/Udayana yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur memiliki karakteristik geografis serta dinamika keamanan yang beragam. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan tinggi dalam menghadapi berbagai ancaman kontemporer.

Menurutnya, selain berpotensi menghadapi bencana alam dan konflik sosial, kawasan tersebut juga memiliki tantangan berupa pengamanan kegiatan kenegaraan berskala internasional, pengawasan wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste, hingga ancaman tindak pidana terorisme.

Karena itu, kemampuan berpikir strategis dan manajerial dinilai menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki para calon pemimpin TNI dan Polri agar mampu merespons setiap situasi secara cepat, terukur, dan efektif.

Piek berharap latihan tersebut menghasilkan dokumen rencana tindakan kontinjensi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi darurat di lapangan.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan penanganan krisis tidak dapat mengandalkan satu institusi semata. Sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, kementerian, lembaga, serta berbagai elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun sistem respons yang terpadu.

“Semoga dengan latihan ini lahir produk Rencana Tindakan Kontinjensi yang mampu diimplementasikan secara efektif dalam menghadapi berbagai situasi darurat. Penting juga memperkuat sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, kementerian, lembaga, dan seluruh komponen bangsa agar penanggulangan berbagai ancaman dapat dilaksanakan secara terpadu, cepat, dan efektif demi melindungi masyarakat, bangsa, dan negara,” tutup Piek.

Melalui latihan tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya memahami penyusunan dokumen perencanaan kontinjensi, tetapi juga memiliki kemampuan membangun koordinasi lintas instansi dalam menghadapi berbagai ancaman yang terus berkembang, baik yang bersifat konvensional maupun nonkonvensional. Gaya latihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan aparat menghadapi kompleksitas tantangan keamanan nasional di masa mendatang.