KOTA BATU — Di tengah berbagai tantangan yang kerap menguji kebersamaan masyarakat, warga Kampung Kerukunan Umat Beragama Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, kembali menunjukkan bahwa toleransi dapat tumbuh melalui cara-cara sederhana. Salah satunya melalui tradisi Anjangsana Waisak yang rutin digelar setiap tahun.
Kegiatan yang bermakna “berkunjung kepada yang berbahagia” tersebut menjadi momentum mempererat hubungan antarumat beragama sekaligus memperkuat praktik moderasi beragama yang telah lama hidup di tengah masyarakat Kota Batu.
Pada peringatan Hari Raya Waisak tahun ini, para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan penyuluh agama melakukan kunjungan ke rumah-rumah umat Buddha yang merayakan Waisak. Kunjungan tidak hanya dilakukan di Kampung Kerukunan Ngandat, tetapi juga menjangkau sejumlah wilayah lain seperti Pesanggrahan, Sisir, Sumberejo, Karangploso, hingga beberapa daerah di luar Kota Batu.
Ketua pelaksana kegiatan sekaligus Penyuluh Agama Buddha Kota Batu, Suwono, mengatakan bahwa Anjangsana menjadi sarana efektif untuk menjaga komunikasi dan memperkuat silaturahmi lintas agama secara berkelanjutan.
Menurutnya, hubungan harmonis tidak cukup dibangun melalui slogan atau seremoni semata, tetapi perlu dirawat melalui perjumpaan dan interaksi langsung antarwarga.
“Anjangsana menjadi salah satu cara sederhana namun bermakna untuk membangun komunikasi aktif dalam keberagaman. Melalui kunjungan dan sapaan hangat saat hari-hari besar keagamaan, masyarakat belajar untuk saling menghormati, memahami, dan mendukung satu sama lain,” ujar Suwono, Senin (1/6/2026).
Ia berharap semangat kebersamaan yang dikenal dengan istilah “Seduluran Saklawase” atau persaudaraan untuk selamanya dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari budaya masyarakat Kota Batu.
Selama ini, Kampung Kerukunan Umat Beragama Ngandat dikenal sebagai salah satu contoh praktik toleransi yang tumbuh dari inisiatif masyarakat. Warga dengan latar belakang agama berbeda hidup berdampingan dan aktif membangun ruang dialog serta kerja sama sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Anjangsana juga tidak hanya dilaksanakan saat Hari Raya Waisak. Tradisi serupa dilakukan ketika perayaan Natal, Idulfitri, maupun momentum keagamaan lainnya. Melalui kebiasaan saling mengunjungi, masyarakat membangun hubungan yang lebih dekat dan menghilangkan sekat-sekat perbedaan.
Kebiasaan tersebut turut mengantarkan Kota Batu meraih berbagai penghargaan di bidang kerukunan umat beragama. Pada 2020, Kota Batu memperoleh Harmony Award dengan Desa Mojorejo sebagai desa percontohan. Kemudian pada 2022, Desa Mojorejo mendapat apresiasi sebagai Desa Damai dari Wahid Foundation atas komitmennya menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis dan inklusif.
Pelaksanaan Anjangsana Waisak tahun ini berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Dalam setiap kunjungan, suasana hangat dan penuh keakraban terasa begitu kental. Warga yang dikunjungi menyambut para tamu dengan penuh kegembiraan serta menyajikan berbagai hidangan sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan.
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Anjangsana menghadirkan ruang perjumpaan yang melahirkan banyak cerita, tawa, dan pengalaman baru. Momen-momen sederhana tersebut menjadi bukti bahwa kerukunan sejatinya dibangun dari hubungan antarmanusia yang tulus dan saling menghargai.
Melalui tradisi ini, masyarakat Kampung Kerukunan Ngandat kembali menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan. Sebaliknya, perbedaan justru menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama dan memperkokoh persaudaraan lintas iman di Kota Batu.
Dengan semangat itu, warga berharap nilai-nilai toleransi yang telah tumbuh dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Kota Batu tetap dikenal sebagai kota yang damai, harmonis, dan menjadi teladan kerukunan bagi daerah lain di Indonesia.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!