Purwokerto — Paparan berbagai informasi di media sosial membuat pendidikan moderasi beragama pada anak semakin penting. Anak dan remaja kini dapat dengan mudah menemukan beragam konten keagamaan, termasuk materi yang disampaikan dengan pemahaman keras dan berpotensi memengaruhi cara mereka melihat perbedaan.
Karena itu, pendidikan moderasi beragama dinilai tidak cukup hanya diberikan melalui pelajaran di sekolah. Keluarga justru menjadi lingkungan pertama yang menentukan bagaimana seorang anak belajar memahami perbedaan, menghargai orang lain, dan menyikapi informasi yang diterimanya.
Dosen Hukum Syariah Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Imam Labib Hibaurrohman, Lc., M.S.I., mengatakan penanaman moderasi beragama perlu dilakukan sejak usia dini. Namun, pendekatan yang diberikan harus disesuaikan dengan usia, tingkat pengetahuan, serta kemampuan anak dalam memahami suatu persoalan.
Hal itu disampaikan Gus Imam Labib dalam program Moderasi Beragama Pro1 RRI Purwokerto, Selasa (6/10/2026).
“Tidak bisa kemudian kita gebyah uyah, karena kembali lagi kepada keilmuan dan pemahamannya orang itu berbeda-beda. Kita harus mengukur keilmuannya anak itu mesti berbeda-beda, pemahaman dan cara penangkapannya juga berbeda-beda,” ujar Gus Imam Labib dikutip dari laman rri.co.id, Kamis (8/10).
Menurut dia, moderasi beragama bukan sekadar pengetahuan yang harus dihafalkan anak. Nilai toleransi, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu dibentuk menjadi karakter melalui kebiasaan sehari-hari.
Di sinilah keteladanan orang tua menjadi penting. Anak cenderung belajar dari apa yang mereka lihat di lingkungan terdekatnya. Karena itu, nasihat mengenai toleransi akan lebih mudah diterima apabila dibarengi dengan perilaku nyata dari orang tua.
Gus Imam Labib menyebut dialog dan keteladanan atau qudwah sebagai dua cara penting dalam mengenalkan moderasi beragama kepada anak. Selain itu, lingkungan tempat anak tumbuh juga ikut menentukan pembentukan karakternya.
“Yang paling efektif itu menurut saya dua, dialog sama teladan. Kemudian membentuk lingkungan yang baik, karena seorang anak akan terbentuk karakternya disebabkan karena lingkungannya, entah lingkungan masyarakat, sekolah, maupun lingkungan bermain,” jelasnya.
Pendekatan dialog menjadi semakin penting ketika anak mulai aktif menggunakan internet dan media sosial. Melalui ruang digital, mereka dapat memperoleh informasi yang tidak selalu sesuai dengan tingkat pemahaman maupun usianya.
Orang tua karena itu perlu mendampingi anak, bukan sekadar memberikan larangan. Ketika menemukan konten keagamaan yang keras atau informasi yang membingungkan, anak perlu memiliki ruang untuk bertanya dan berdiskusi.
Dengan komunikasi yang terbuka, orang tua dapat membantu anak membedakan antara pemahaman agama yang mengajarkan kedamaian dengan narasi yang justru mendorong kebencian, intoleransi, atau kekerasan.
Pendekatan semacam itu juga membuat anak tidak mencari jawaban hanya dari media sosial. Orang tua dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk memperoleh penjelasan ketika menghadapi informasi yang belum mereka pahami.
Gus Imam Labib menilai pendidikan moderasi beragama idealnya dimulai dari keluarga, bahkan menurut pandangannya dapat dikenalkan sejak masa kehamilan. Setelah anak lahir, cara menyampaikannya tentu harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan berpikir anak.
Artinya, pendidikan moderasi tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Keluarga tetap menjadi fondasi utama pembentukan karakter.
Orang tua juga perlu memiliki bekal pengetahuan agar mampu memberikan penjelasan yang sederhana dan dapat dipahami anak. Hal ini penting karena cara anak menangkap informasi berbeda sesuai dengan perkembangan usianya.
Sekolah dan masyarakat kemudian menjadi lingkungan yang memperkuat pendidikan tersebut. Guru, orang tua, dan tokoh masyarakat perlu membangun pola komunikasi yang sejalan agar anak mendapatkan contoh yang konsisten mengenai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.
Jika nilai yang diajarkan di sekolah berbeda dengan apa yang setiap hari dilihat anak di lingkungan rumah atau pergaulannya, pembentukan karakter tentu menjadi lebih sulit.
Menurut Gus Imam Labib, pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan pengajaran. Pengajaran dapat memberikan pengetahuan, sedangkan pendidikan harus mampu membentuk karakter peserta didik.
“Pendidikan itu lebih baik daripada pengajaran. Kalau pengajaran itu memasukkan ilmu, siapa saja bisa. Tapi kalau tarbiah tidak semua orang bisa mendidik. Kita sebagai pendidik mau tidak mau harus membentuk karakter siswa,” pungkasnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan moderasi beragama bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan melalui satu kegiatan atau satu mata pelajaran. Ia membutuhkan proses panjang dan keterlibatan banyak pihak.
Terlebih di tengah perkembangan media sosial, anak tidak hanya belajar dari guru dan orang tua. Mereka juga mendapatkan pengaruh dari teman sebaya, kreator konten, komunitas digital, hingga berbagai informasi yang muncul di layar ponsel.
Karena itu, kemampuan berpikir kritis perlu berjalan beriringan dengan pendidikan agama. Anak perlu dibekali kemampuan bertanya, memeriksa informasi, memahami perbedaan, dan tidak mudah menerima sebuah narasi hanya karena disampaikan dengan mengatasnamakan agama.
Pada akhirnya, membangun moderasi beragama pada anak bukan berarti menjauhkan mereka dari perbedaan. Justru anak perlu dikenalkan dengan keberagaman sejak dini agar memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bersama.
Benteng pertama menghadapi intoleransi bukan selalu berada di ruang kelas atau lembaga negara. Ia bisa dimulai dari meja makan di rumah, dari percakapan orang tua dengan anak, dan dari keteladanan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!