Petugas kesehatan membawa korban teror truk ke rumah sakit

Aksi Terorisme di New York, Tak Ada WNI Jadi Korban

New York – Aksi terorisme yang terjadi di Manhattan, New York, dilaporkan menewaskan delapan orang dan melukai belasan korban lainnya. Insiden tersebut adalah aksi teror paling berdarah yang terjadi di New York setelah serangan teroris di menara kembar WTC pada 11 September 2001 yang menewaskan lebih dari 2.600 jiwa.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa (31/10/2017) waktu setempat atau Rabu (1/11/2017) waktu di Indonesia, dilakukan seorang pria keturunan Uzbekistan bernama Sayfullo Habibullaevic Saipov (29) yang mengemudikan truk pick-up putih dengan kecepatan tinggi dan menabrak para pejalan kaki serta pengendara sepeda di jalur sepeda di sepanjang Sungai Hudson.

Menyikasi kejadian itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu) belum menerima laporan adanya korban warga negara Indonesia (WNI) dalam peristiwa tersebut. Kemlu dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York masih terus memantau situasi dan perkembangan yang terjadi di kota berjuluk Big Apple itu.

“Kemlu dan KJRI @kjri_ny terus ikuti perkembangan aksi teror di New York. Sampai saat ini tidak ada laporan WNI jadi korban. Bagi WNI yang membutuhkan bantuan, silahkan hubungi Hotline KJRI New York: +1 (929) 278-6298 atau +1 (347) 806-9279 @kjri_ny,” demikian informasi yang disampaikan Kemlu RI melalui akun Twitternya, Rabu (1/11/2017)

Walikota New York, Bill de Blasio mengecam serangan tersebut sebagai sebuah aksi pengecut dan menegaskan bahwa warga New York tak akan pernah goyah dan takut pada terorisme. Namun, sampai saat ini belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Gubernur New York, Andrew Cuomo mengatakan, pelaku serangan adalah seorang ‘lone wolf’, sebutan bagi pelaku yang menjalankan dan merencanakan aksi teror sendirian. Tidak ada indikasi dan bukti yang menunjukkan serangan tersebut merupakan bagian dari rencana yang lebih luas.

Serangan teroris dengan menggunakan mobil atau truk telah terjadi beberapa kali di berbagai negara pada tahun ini. Sebelumnya, kendaraan roda empat digunakan untuk menargetkan warga sipil dan kerumunan orang dalam beberapa aksi teror di Eropa termasuk serangan di Nice, Prancis dan Barcelona, Spanyol. Cara serupa juga digunakan militan dalam serangan teroris yang terjadi di London, Inggris dan Berlin, Jerman.