Akademisi PTIQ Jakarta: Bahaya Intoleransi di Ruang Digital Mengancam Harmoni Umat Beragama

Depok – Perbedaan latar belakang yang disikapi dengan dewasa yang kemudian menciptakan harmoni dalam kehidupan, inilah yang dinamakan dengan toleransi. Ibarat piano yang masing-masing tuts nya berbeda suara, jika dipadukan dengan baik maka akan menghasilkan nada yang indah.

Dosen Universitas PTIQ Jakarta, Dr. KH. Akhmad Shunhaji, M.Pdi, menjelaskan bahwa memiliki sikap toleransi berarti dapat menerima perbedaan yang ada, karena pada dasarnya setiap manusia terlahir dalam kondisi yang berbeda-beda. Pernyataan ini ia sampaikan pada acara Halal Bihalal dan Paskah 2026 bertema “Diskusi Kebangsaan: Menakar Toleransi Bangsa” yang berlangsung di Kapel GBI Maranatha, Cinere, Jumat (15/5/26).

“Dalam kehidupan bermasyarakat perlu adanya keharmonisan yang merawat keberagaman, sehingga keberagaman menjadi kekuatan dan bukan sumber perpecahan,” terang Akhmad.

Menurutnya, sikap intoleransi dapat dipicu oleh kemalasan suatu pihak dalam memahami pihak lain yang berbeda dengannya. Pihak yang malas cenderung mudah memberikan penilaian sepihak, mudah curiga, merasa paling benar, bahkan menganggap perbedaan keyakinan dan keimanan sebagai ancaman terhadap eksistensinya.

Akhmad juga menyerukan pentingnya penggunaan teknologi dengan bijak. Hal ini ia kemukakan karena semakin banyak pembuatan konten dengan AI (Artificial Intelligence) yang terkadang sengaja digunakan untuk menyesatkan informasi. Seringkali suatu informasi yang beredar telah melenceng jauh dari kondisi sebenarnya karena banyaknya distorsi atau ubahan yang difasilitasi oleh penyalahgunaan AI. 

Oleh karena itu, Akhmad menyerukan pentingnya edukasi bagi masyarakat untuk mencari sumber informasi alternatif jika suatu saat mendapatkan sebaran informasi yang meresahkan. Kemampuan dalam mengenali substansi konten informasi, lalu mencocokkannya dengan sumber yang kredibel akan memberikan imunitas kepada masyarakat yang mengonsumsi suatu konten agar tidak mudah terprovokasi. 

“Tantangan kita sekarang adalah kurangnya sikap saling memahami. Ditambah lagi komentar kasar, potongan video yang menyesatkan, hingga provokasi digital yang semakin marak,” ujarnya.

Akhmad juga berpesan dengan mengutip ayat dalam Al-Quran, bahwa saling mengenal satu sama lain adalah hikmah dari penciptaan manusia yang terdiri dari banyak suku dan bangsa. Ia menyimpulkan bahwa potensi intoleransi dan perpecahan bisa diminimalisasi jika seluruh kelompok masyarakat dari latar belakang yang berbeda bisa saling berjumpa dan mengenal.

Kemajemukan masyarakat Indonesia, menurut Akhmad, adalah daya tarik tersendiri di wilayah Asia Tenggara, bahkan dunia. Bayangkan saja, terdapat ratusan suku dan budaya yang telah lama mendiami Bumi Pertiwi, namun bisa saling mendukung dan menguatkan dalam masa perjuangan di masa lalu, hingga akhirnya mampu membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

“Saya berharap kegiatan dialog kebangsaan seperti ini terus digelar, khususnya di Kota Depok. Dengan saling mengenal, masyarakat dapat menumbuhkan rasa cinta, saling mendoakan, serta saling membantu dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.