JAMBI – Generasi muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan mengenali propaganda radikalisme dan terorisme di internet. Mereka juga perlu mengambil peran aktif dalam membangun ruang digital yang sehat melalui konten positif, kreatif, dan mengedepankan nilai perdamaian.
Pesan tersebut disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam workshop Peace Creator yang diselenggarakan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi, Selasa (3/11). Sebanyak 250 pelajar dilibatkan dalam kegiatan tersebut untuk memperkuat ketahanan digital sekaligus mendorong partisipasi generasi muda dalam pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan.
Pelaksana Tugas Kepala Biro Hukum dan Komunikasi BNPT, Brigjen Pol Slamet Riyadi, mengatakan ancaman terorisme di ruang digital perlu mendapat perhatian serius, terutama karena anak-anak dan remaja menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap paparan konten bermuatan ekstrem.
“Ancaman terorisme saat ini menuntut perhatian serius terhadap perlindungan anak dan remaja,” kata Slamet.
Menurut dia, internet dan media sosial menjadi saluran penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan dengan tingkat paparan yang tinggi. Kondisi tersebut semakin membutuhkan perhatian ketika tidak diimbangi kemampuan literasi digital yang memadai.
BNPT mencatat, dalam kurun dua tahun terakhir terdapat 782 anak yang terpapar paham ekstremisme di 18 provinsi. Dari jumlah tersebut, 137 anak di antaranya terpapar jaringan terorisme.
Sebagian besar anak yang teridentifikasi berusia 11 hingga 18 tahun. Paparan berlangsung melalui berbagai saluran digital, mulai dari media sosial dan grup komunikasi hingga permainan daring.
Slamet menekankan, upaya pencegahan di ruang digital tidak cukup hanya dilakukan dengan membatasi akses atau memberikan peringatan terhadap konten negatif. Generasi muda perlu didorong untuk mengambil bagian dalam menciptakan narasi tandingan yang membawa pesan kebangsaan, toleransi, dan perdamaian.
Melalui pelatihan Peace Creator, para pelajar diharapkan mampu memanfaatkan kreativitas dan kemampuan bermedia digital untuk menyebarkan pesan positif sekaligus meredam narasi kebencian dan kekerasan.
“Kita ingin adik-adik tidak hanya menjadi penonton dan penerima informasi, tetapi menjadi pembuat pesan yang menghadang narasi tersebut terhadap kebencian dan kekerasan,” ujarnya.
BNPT menilai kolaborasi FKPT Jambi, pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, dan komunitas pelajar merupakan modal sosial penting untuk memperkuat ketahanan digital. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus membangun lingkungan yang mendukung tumbuhnya kreativitas generasi muda.
Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani menegaskan bahwa pencegahan radikalisme, intoleransi, dan terorisme membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga penting untuk menjaga kehidupan masyarakat agar tetap aman, nyaman, dan tertib.
Pemprov Jambi turut menaruh perhatian terhadap sejumlah persoalan yang berpotensi mengganggu perkembangan generasi muda, seperti perundungan, kenakalan remaja, geng motor, serta penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya.
Sebagai bentuk komitmen, pemerintah daerah telah menerbitkan Instruksi Gubernur Jambi Nomor 11 Tahun 2026 tentang sosialisasi dan pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme (IRET), perundungan anak, geng motor, serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya.
“Pemerintah Provinsi Jambi melalui instansi terkait melaksanakan berbagai langkah untuk mencegah penyebaran luas paham menyimpang,” jelas Abdullah Sani. Melalui penguatan literasi digital, pelibatan pelajar sebagai kreator konten, dan kolaborasi lintas sektor, upaya pencegahan diharapkan tidak hanya membentengi generasi muda dari paparan ekstremisme, tetapi juga menjadikan mereka bagian aktif dalam menyebarkan nilai toleransi, persatuan, dan perdamaian di ruang digital.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!