Cegah Radikalisme, KAUNISSAS Perkuat Literasi Digital Pelajar Sambas 

Sambas – Penguatan karakter dan kecakapan bermedia digital menjadi bagian penting dalam upaya melindungi pelajar dan pemuda dari pengaruh intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme. Keluarga Alumni Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (KAUNISSAS) mendorong generasi muda agar lebih kritis menyaring informasi, menjunjung tinggi toleransi, serta memperkuat wawasan kebangsaan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui workshop bertema “Mewujudkan Pelajar Berkarakter, Cerdas Digital, dan Berwawasan Kebangsaan guna Mencegah Intoleransi, Ekstremisme, dan Radikalisme” yang digelar di Hotel Pantura Jaya, Sambas, Rabu (28/10).

Kegiatan ini melibatkan pelajar SMP dan SMA sederajat dari berbagai sekolah, mahasiswa sejumlah perguruan tinggi, perwakilan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, serta tokoh masyarakat dan tokoh adat di Kabupaten Sambas.

Beragam kalangan tersebut dilibatkan untuk memperluas pemahaman mengenai pentingnya membangun karakter generasi muda sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran informasi keliru dan paham yang bertentangan dengan nilai toleransi serta kebangsaan.

Workshop menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan aktivis organisasi. Materi yang disampaikan mencakup pembangunan karakter, integritas dan kepemimpinan pelajar, kecakapan bermedia sosial, penanggulangan hoaks, serta penguatan wawasan kebangsaan dan pencegahan intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme.

Ketua Umum KAUNISSAS, Zikriadi, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pelajar dan pemuda, mulai dari penurunan kualitas moral dan pergaulan hingga maraknya perundungan di lingkungan sekolah. Kurangnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak di media sosial juga menjadi perhatian yang perlu ditangani bersama.

“Teman-teman dari alumni berinisiatif mengadakan acara ini karena melihat kondisi sekarang, ada degradasi moral, akhlak, ataupun pergaulan di lingkungan pelajar dan pemuda,” ujar Zikriadi setelah membuka kegiatan.

Menurut dia, perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan bagi generasi muda untuk mengakses informasi. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi kemampuan untuk memilah informasi secara kritis dan memahami persoalan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Zikriadi menekankan pentingnya proses belajar dengan bimbingan guru maupun orang yang memiliki kompetensi di bidangnya. Dengan demikian, pelajar dan pemuda tidak mudah menerima informasi yang keliru atau terpengaruh ajaran yang menyesatkan.

Literasi digital, menurutnya, tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi atau mengakses media sosial. Generasi muda juga perlu memiliki kedewasaan dalam menilai informasi, memahami konsekuensi dari aktivitas digital, dan mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain.

Selain persoalan di ruang digital, Zikriadi menyoroti perilaku menyimpang di kalangan pemuda, seperti balap liar yang tidak pada tempatnya dan tawuran. Ia menilai persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama melalui pembinaan karakter dan edukasi sejak dini.

Ia berharap workshop ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Sambas diharapkan menjadi penggerak yang menyebarluaskan pesan positif kepada teman sebaya dan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Menurut Zikriadi, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi alumni kepada masyarakat dan sarana memperkenalkan perguruan tinggi kepada publik.

Ketua Panitia, Asrul, menjelaskan bahwa pelibatan peserta dirancang tidak terbatas pada siswa. Perwakilan kepala sekolah, guru, dan komite sekolah juga dilibatkan agar upaya membangun karakter serta mencegah penyebaran paham intoleran dapat memperoleh dukungan dari lingkungan pendidikan.

Narasumber dengan latar belakang yang beragam dihadirkan untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme. Peserta juga diharapkan mampu mengenali potensi penyebarannya serta memahami langkah pencegahan yang dapat dilakukan di sekolah maupun lingkungan masyarakat.

“Kami berharap ketika mereka pulang, peserta bisa memahami dan mengimplementasikan ilmu yang didapat, kemudian berbagi kepada teman-teman yang lain sehingga hal-hal seperti itu tidak mudah tersebar, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” kata Asrul.

Komitmen peserta terhadap nilai kebangsaan dan toleransi turut ditegaskan melalui deklarasi yang digelar di sela kegiatan. Para pelajar dan pemuda menyatakan komitmen untuk menjunjung tinggi toleransi dan kejujuran serta menghormati perbedaan di tengah keberagaman masyarakat.

Mereka juga menyatakan penolakan terhadap hoaks dan ujaran kebencian, sekaligus menegaskan kesetiaan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Deklarasi tersebut menjadi penegasan bahwa pencegahan intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda. Sikap kritis dalam menerima informasi perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap perbedaan, kejujuran, serta kesadaran untuk menjaga persatuan.

Melalui workshop ini, KAUNISSAS berharap pelajar dan pemuda di Kabupaten Sambas tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, cakap menghadapi tantangan ruang digital, dan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu berkontribusi menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang aman, inklusif, serta terbebas dari penyebaran kebencian dan paham ekstremisme.