Kupang – Moderasi beragama tidak cukup berhenti sebagai wacana akademik. Nilai toleransi perlu diwujudkan dalam cara masyarakat menyikapi perbedaan, menjaga lingkungan, dan membangun hubungan kemanusiaan. Berangkat dari gagasan tersebut, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mendorong mahasiswa menjadi penggerak moderasi beragama melalui penguatan dialog lintas iman, kepedulian ekologis, dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Komitmen itu mengemuka dalam Workshop dan Expo Moderasi Beragama 2026 bertema “Merajut Moderasi Beragama, Ekoteologi, dan Cinta Sesama” yang digelar di halaman Kampus IAKN Kupang, Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari hingga Rabu (28/10/2026) tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk menghubungkan nilai keagamaan dengan tantangan sosial dan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Sambutan Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., disampaikan Wakil Rektor I Maryon D. Pattinaja, Ph.D. Rektor berhalangan hadir karena harus mengikuti pertemuan rektor perguruan tinggi se-Indonesia atas permintaan Sekretaris Jenderal.
Dalam sambutannya, Maryon menjelaskan bahwa Expo Moderasi Beragama merupakan salah satu program prioritas pimpinan IAKN Kupang untuk mendukung implementasi Asta Cita dan memperkuat moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.
“Tema yang diangkat dalam Expo Moderasi Beragama ini bukan sekadar sebuah rangkaian kata yang indah. Tema ini sebenarnya lahir dari pergumulan nyata bangsa kita,” ungkap Maryon.
Menurutnya, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang saling berkaitan, mulai dari keberagaman agama dan budaya, krisis ekologis, hingga potensi konflik sosial. Persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepedulian, dan kesediaan untuk hidup berdampingan.
Ia mengingatkan bahwa kemajemukan Indonesia harus diperlakukan sebagai kekuatan yang mempersatukan, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan yang memicu perpecahan. Politisasi keberagaman, ujaran kebencian atas nama agama, dan penyebaran berita bohong bernuansa keagamaan perlu diantisipasi melalui penguatan budaya dialog serta sikap saling menghormati.
Maryon juga mengajak sivitas akademika untuk membiasakan diri menghargai perbedaan pendapat dan menyampaikan kritik secara santun. Menurutnya, moderasi beragama semestinya menjadi bagian dari gaya hidup seluruh warga kampus, bukan sekadar materi yang dipelajari dalam perkuliahan.
Moderasi beragama harus menjawab persoalan nyata
Selain persoalan keberagaman, Maryon menyoroti krisis ekologis yang dampaknya dapat melampaui batas wilayah. Kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran, dan perubahan iklim menjadi tantangan bersama yang membutuhkan kepedulian lintas daerah maupun kelompok masyarakat.
Nusa Tenggara Timur, menurutnya, juga dapat merasakan dampak persoalan lingkungan yang terjadi di wilayah lain. Karena itu, kepedulian terhadap alam tidak boleh dipandang sebagai urusan satu komunitas atau pemerintah daerah tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.
Potensi konflik sosial akibat persoalan batas tanah, kesenjangan sosial, perebutan sumber daya alam, dan politik identitas juga perlu ditangani dengan mengedepankan dialog serta keadilan. Dalam konteks tersebut, moderasi beragama, ekoteologi, dan cinta sesama memiliki keterkaitan yang erat.
Ekoteologi mendorong manusia memahami tanggung jawab moral dan keagamaan dalam menjaga alam. Sementara itu, cinta sesama mengajak setiap orang memperlakukan orang lain secara bermartabat, terlepas dari perbedaan agama, budaya, maupun latar belakang sosial.
Ketiga nilai tersebut menjadi landasan bagi IAKN Kupang untuk memperkuat peran perguruan tinggi keagamaan dalam menjawab persoalan masyarakat.
“IAKN Kupang sebagai lembaga perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang hanya ada di level teori. Kita juga harus membentuk manusia yang menghargai sesama, menghargai lingkungan, dan menghargai perbedaan,” tegas Maryon.
Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik. Kampus juga perlu membentuk pribadi yang memiliki moralitas, kepedulian sosial, nilai keagamaan, serta penghargaan terhadap kearifan lokal.
Mahasiswa didorong menjadi relawan moderasi beragama
Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam Expo Moderasi Beragama tahun ini adalah rencana pembentukan relawan moderasi beragama di lingkungan IAKN Kupang. Program tersebut diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperluas gerakan toleransi dan kemanusiaan, terutama di kalangan mahasiswa.
Mahasiswa tidak hanya diharapkan menjadi penerima pengetahuan di ruang kuliah, tetapi juga mampu menjadi duta perdamaian yang membawa pesan toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman ke tengah masyarakat.
Pesan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai ruang pengabdian, mulai dari sekolah, gereja, komunitas masyarakat, hingga lingkungan tempat mahasiswa menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Maryon juga mendorong perluasan perjumpaan lintas iman melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Interaksi antarmahasiswa dengan latar belakang berbeda dinilai dapat memperluas wawasan, memperkuat pemahaman, dan menumbuhkan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia sekaligus masyarakat global.
Ia berharap Kementerian Agama terus mendukung program yang mempertemukan generasi muda lintas agama dan budaya. Melalui perjumpaan tersebut, mahasiswa dapat belajar saling memahami, membangun kerja sama, dan mengembangkan sikap yang menghargai perbedaan.
Workshop dan Expo Moderasi Beragama juga menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk memamerkan karya serta hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat, termasuk program KKN. Pameran ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan penerapan nilai moderasi beragama, kepedulian lingkungan, dan cinta sesama dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Maryon menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai tersebut harus menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, kampus dapat berkontribusi lebih luas dalam membangun perdamaian, memperkuat persatuan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kepedulian ekologis dimulai dari lingkungan kampus
Komitmen terhadap moderasi dan ekoteologi, lanjut Maryon, perlu dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Ia mengajak dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa menjaga kebersihan kampus, membuang sampah pada tempatnya, menghemat penggunaan air dan listrik, serta merawat pepohonan di lingkungan kampus.
Ia secara khusus mengingatkan agar gerakan penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon. Tanaman yang sudah ditanam harus dirawat agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.
“Jangan hanya menanam pohon saja, tetapi juga harus disiram dan dirawat,” pesannya.
Maryon mencontohkan kegiatan penanaman anakan pohon di sekitar sumber mata air di desa dekat kampus. Kegiatan tersebut, menurutnya, perlu dilanjutkan dengan pemeliharaan secara berkelanjutan agar upaya penghijauan benar-benar berdampak pada kelestarian lingkungan.
Kepedulian terhadap sesama juga harus tercermin dalam kehidupan internal kampus. Ia mengajak dosen dan tenaga kependidikan memberikan pelayanan yang ramah, menghargai mahasiswa, serta merangkul seluruh warga kampus dalam suasana kekeluargaan.
IAKN Kupang diharapkan menjadi rumah belajar yang aman dan nyaman, tempat mahasiswa tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga membangun karakter, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Melalui Workshop dan Expo Moderasi Beragama 2026, IAKN Kupang berupaya menghubungkan nilai keagamaan dengan tindakan nyata. Pembentukan relawan moderasi beragama, penguatan dialog lintas iman, dan pembiasaan menjaga lingkungan menjadi bagian dari upaya menjadikan kampus sebagai ruang tumbuhnya toleransi, kemanusiaan, dan kepedulian ekologis.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!