JAKARTA – Toleransi tidak cukup berhenti pada seruan untuk saling menghormati. Kerukunan perlu diwujudkan melalui perjumpaan lintas iman, kepedulian sosial, penguatan keluarga, hingga pelayanan keagamaan yang dapat diakses semua kalangan. Semangat inilah yang diusung Kementerian Agama melalui belasan agenda The Wonder of Harmony 2026 sepanjang November hingga Desember.
Mengangkat tema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri”, rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Toleransi tersebut dirancang untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam merawat kerukunan. Pendekatannya tidak hanya melalui dialog antarumat beragama, tetapi juga melalui pendidikan generasi muda, penguatan kapasitas penyuluh, pemberdayaan ekonomi, serta aksi bersama yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad mengatakan, toleransi dan kerukunan merupakan modal penting bagi pembangunan masyarakat. Karena itu, upaya merawat perdamaian perlu diterjemahkan ke dalam kegiatan yang mendorong kolaborasi dan memperkuat hubungan sosial.
“Satu pesan yang kuat bahwa toleransi, kerukunan, perdamaian itu merupakan modal yang sangat penting dalam kekayaan kita untuk terus mewujudkan pembangunan masyarakat,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Senin.
Rangkaian kegiatan akan diawali dengan Dialog Kerukunan bertema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri” pada 2 November 2026 di Rumah Dinas Menteri Agama. Forum tersebut direncanakan mempertemukan Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan 50 pimpinan organisasi kemasyarakatan keagamaan tingkat pusat.
Pertemuan ini diharapkan memperkuat sinergi antarlembaga keagamaan sekaligus membangun komitmen bersama dalam pembinaan umat. Dialog lintas organisasi menjadi salah satu langkah untuk memastikan kerukunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama para pemimpin agama dan masyarakat.
Penguatan toleransi juga diarahkan kepada generasi muda melalui program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) di Banten. Dengan melibatkan organisasi pemuda dan mahasiswa, program ini membekali peserta dengan pemahaman mengenai relasi sehat, kesiapan perkawinan, pengambilan keputusan, serta pencegahan perkawinan anak.
Pendekatan tersebut memperluas cakupan pembinaan keagamaan, dari penguatan pemahaman agama menuju pembentukan individu dan keluarga yang mampu menghadapi tantangan sosial. Keluarga yang kuat dan lingkungan pergaulan yang sehat menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang saling menghormati.
Pada 3–5 November 2026, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam juga menjadwalkan Capacity Building RECONNECT di Depok dan Bogor. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas penyuluh agama dalam mendampingi proses reintegrasi sosial, sehingga mereka memiliki bekal untuk membantu individu kembali berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, melalui Harmony Family Talks, Kemenag mempertemukan penghulu, penyuluh agama, akademisi, dan organisasi profesi untuk membahas tantangan keluarga dari perspektif agama, psikologi, dan pelayanan publik. Forum ini diharapkan memperkaya pendekatan pendampingan keluarga dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Salah satu agenda yang menonjol dalam The Wonder of Harmony 2026 adalah Bakti Lintas Iman bertajuk “Saling Merawat, Saling Menghormati” yang direncanakan berlangsung di berbagai daerah pada Desember.
Kegiatan ini mengajak penyuluh lintas agama dan komunitas keagamaan terlibat langsung dalam aksi sosial. Bentuknya antara lain mengunjungi rumah ibadah, merawat lingkungan, mengelola sampah, serta meningkatkan aksesibilitas fasilitas bagi warga lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Melalui kegiatan tersebut, kerukunan ditempatkan sebagai praktik kebersamaan yang dapat dirasakan masyarakat. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi warga untuk bekerja sama menjaga lingkungan, memperbaiki fasilitas umum, dan membantu kelompok yang membutuhkan dukungan.
Semangat serupa diperkuat melalui Cultural Talks bertajuk “Merawat Tradisi, Menghidupkan Seni Kitab Suci”. Forum ini mempertemukan pengelola Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani), dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) untuk berbagi pengalaman dalam pembinaan seni dan tradisi keagamaan.
Pertemuan tersebut membuka ruang pertukaran pengalaman di antara komunitas yang memiliki tradisi berbeda. Seni dan budaya keagamaan diharapkan menjadi sarana untuk mengenal kekayaan ekspresi iman sekaligus memperkuat penghormatan terhadap keberagaman.
Kemenag juga akan menggelar Ngaji Budaya dan Tradisi Islam di Nusantara di Jakarta dan Semarang. Agenda ini menempatkan tradisi sebagai salah satu pintu untuk memahami hubungan antara agama, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Memperluas layanan keagamaan yang inklusif
Selain memperkuat hubungan antarumat beragama, Kemenag memberikan perhatian pada aksesibilitas layanan keagamaan. Salah satunya melalui program RISE (Ruang Inklusif dan Setara), yang berfokus pada penguatan dakwah inklusif dan konseling keluarga bersama Asosiasi Tuli Muslim Indonesia.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan pendampingan bagi penyandang disabilitas. Pendekatan inklusif ini penting agar keterbatasan akses komunikasi tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memperoleh bimbingan keagamaan dan layanan keluarga.
Di bidang dakwah, Kemenag menyiapkan program Dai Muda Penyeru Cinta untuk membina 100 calon dai dan daiyah muda. Pembinaan dilakukan melalui pelatihan, magang di pesantren, dan pengabdian masyarakat selama 30 hari.
Program ini diharapkan memperkuat kapasitas generasi pendakwah muda dalam menyampaikan pesan agama yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Pengabdian langsung juga memberi kesempatan bagi peserta untuk memahami persoalan sosial yang dihadapi warga di lapangan.
Di sektor ekonomi umat, Kemenag dijadwalkan berpartisipasi dalam Halal Expo 2026 pada 18–20 November di FISIP Universitas Indonesia, Depok. Agenda ini melengkapi rangkaian kegiatan dengan perhatian terhadap pengembangan potensi ekonomi berbasis komunitas.
Menghadirkan ruang kebersamaan di berbagai daerah
Keterlibatan masyarakat juga akan diperluas melalui Harmony Fun Walk yang dijadwalkan berlangsung di Yogyakarta pada 15 November, Surabaya pada 29 November, dan Jakarta pada 6 Desember 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pesan kerukunan melalui aktivitas publik yang dapat melibatkan masyarakat lebih luas.
Kemenag turut melanjutkan program Nikah Akbar di sejumlah daerah. Setelah pelaksanaan di Semarang pada 21 Oktober, agenda berikutnya dijadwalkan berlangsung di Ambon pada 31 Oktober, Medan pada 26 November, Deli Serdang pada 27 November, dan Surakarta pada 5 Desember 2026.
Menjelang libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam juga menyiapkan program Masjid Ramah Pemudik di berbagai daerah. Program ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat yang melakukan perjalanan selama periode liburan.
Beragam agenda tersebut menunjukkan bahwa penguatan kerukunan dapat dilakukan melalui banyak jalur, mulai dari dialog para pemimpin agama hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat secara langsung. Pendidikan keluarga, pengembangan generasi muda, pemberdayaan ekonomi, dan layanan inklusif turut menjadi bagian dari pendekatan yang disiapkan Kemenag.
Melalui The Wonder of Harmony 2026, Kemenag membawa pesan bahwa toleransi membutuhkan keterlibatan berkelanjutan, bukan hanya peringatan seremonial. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap agenda menghasilkan manfaat nyata, memperluas partisipasi masyarakat, dan memperkuat budaya saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!