Papua – Upaya merawat keharmonisan sosial serta membentengi masyarakat dari ancaman paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme terus dilakukan melalui aksi nyata di kawasan Indonesia Timur. Pemerintah Kabupaten Sorong bersama seluruh elemen masyarakat menggelar kegiatan Jalan Santai Toleransi dalam rangka menyemarakkan perayaan HUT Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua sekaligus peringatan Injil Masuk di Tanah Moi.
Kegiatan inklusif ini mengambil rute perjumpaan antariman yang sangat simbolis, dimulai dari Gereja Bethel Mawolokmai Aimas dan berakhir di Kampung Kerukunan, tepatnya di kawasan Vihara Buddha Sasana Aimas. Jalan Santai Toleransi ini bukan sekadar perayaan seremonial biasa, melainkan bukti nyata dari tingginya komitmen warga Kabupaten Sorong dalam merawat keberagaman.
“Melalui rute yang menghubungkan rumah ibadah ini, kita ingin menunjukkan kepada seluruh bangsa bahwa perbedaan keyakinan adalah modal sosial untuk mempererat persaudaraan nasional dan menutup celah masuknya paham radikal yang berusaha memecah belah keutuhan warga,” ujar Bupati Sorong Dr. Johny Kamuru, S.H., M.Si. saat memberikan sambutannya dikutip dari laman rri.co.id.
Kehadiran jajaran pimpinan daerah bersama tokoh agama serta warga dari berbagai latar belakang keyakinan menjadi benteng pertahanan sosial yang kokoh di tingkat akar rumput. Penguatan silaturahmi secara langsung dinilai sebagai metode paling efektif dalam membendung narasi kebencian serta propaganda ekstremis yang kerap dimanipulasi di ruang publik.
Ahmad Sutejo, selaku Wakil Bupati Sorong, mengajak seluruh warga masyarakat untuk menjadikan semangat toleransi ini sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Warga harus terus memperkuat persatuan, menghargai setiap perbedaan keyakinan, serta membangun tatanan sosial yang damai dan harmonis.
“Ketika masyarakat kita terbiasa hidup berdampingan dengan saling menghormati, maka ideologi intoleran maupun ancaman terorisme tidak akan pernah memiliki ruang untuk berkembang di Tanah Moi ini,” jelas Wakil Bupati Sorong Ahmad Sutejo saat memberikan arahannya di lokasi acara.
Inisiatif positif yang melibatkan ribuan warga dari berbagai latar belakang agama dan budaya ini menjadi simbol ketahanan nasional yang kuat di wilayah Papua Barat Daya. Sinergi antara pemerintah daerah, pemuka agama Katolik, Protestan, Islam, Hindu, dan Buddha memancarkan pesan perdamaian yang menyejukkan ke seluruh penjuru Nusantara.
“Saya memandang bahwa kebersamaan yang tercipta hari ini adalah jawaban tegas atas berbagai potensi konflik sosial berbasis SARA yang kerap diembuskan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Melalui perjumpaan yang hangat seperti ini, imunitas sosial warga semakin teruji dalam menolak segala bentuk provokasi radikal yang dapat mengoyak kedamaian yang telah kita bina bersama,” tutur Sekretaris Daerah Kabupaten Sorong Nimrod Sesa memaparkan makna strategis kegiatan tersebut.
Apresiasi tinggi juga datang dari para tokoh agama setempat yang menganggap Kampung Kerukunan di Aimas sebagai percontohan nyata pelaksanaan moderasi beragama di Indonesia. Pembinaan generasi muda melalui kegiatan sosial keagamaan yang inklusif dipandang sebagai investasi jangka panjang demi menjaga kedaulatan NKRI.
Terlihat tingginya antusiasme warga lintas iman yang berjalan bergandengan tangan menuju Vihara Buddha Sasana. Kegiatan ini membuktikan bahwa moderasi beragama di Kabupaten Sorong bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan tradisi hidup yang dipraktikkan secara nyata. Warga Sorong siap membimbing umat masing-masing agar senantiasa menolak paham ekstremisme kekerasan dan memelihara kedamaian.
Melalui komitmen bersama yang dijaga secara berkelanjutan, masyarakat di Tanah Moi membuktikan bahwa persatuan bangsa dibangun dari rasa saling percaya dan kepedulian antar sesama. Dari langkah sederhana dalam kegiatan jalan santai ini, tumbuh harapan besar untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang inklusif, toleran, serta terbebas dari ancaman radikalisme. “Saya berharap semangat Jalan Santai Toleransi ini terus dihidupkan oleh seluruh elemen masyarakat hingga ke tingkat kampung. Dengan menjaga persaudaraan yang erat di Tanah Moi, kita memastikan bahwa Kabupaten Sorong akan selalu menjadi benteng perdamaian yang kokoh, aman, dan penuh toleransi bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Bupati Sorong Dr. Johny Kamuru, S.H., M.Si.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!