LOMBOK UTARA – Penguatan karakter generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan di ruang kelas. Pelajar juga perlu dibekali ketahanan mental, kemampuan menyaring informasi, serta kesadaran untuk menjauhi intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun ruang digital.
Upaya tersebut dilakukan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan dengan menggelar sosialisasi penguatan mental dan karakter pemuda di SMAN 1 Pemenang dan SMAN 1 Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) NTB Densus 88 Antiteror Polri.
Sosialisasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran pelajar terhadap berbagai tantangan yang dapat memengaruhi perkembangan mereka, mulai dari paparan paham intoleran dan radikal, tindakan kekerasan, hingga perilaku tidak bijak di media sosial. Melalui pendekatan edukatif dan dialog interaktif, para siswa diajak membangun karakter positif serta mengembangkan potensi diri.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan Dikpora NTB, H. Tarmidzi, S.Kom., M.E., menekankan pentingnya penguatan mental bagi generasi muda. Ia mengajak para siswa untuk gemar berbagi ilmu dan hal-hal bermanfaat, tetap fokus mengejar prestasi, serta terus mengembangkan karakter yang kuat.
Menurut Tarmidzi, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadapi tantangan sosial dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab.
“Sosialisasi ini adalah upaya pencegahan dari tindakan teroris anarkis dan perundungan juga guna mengasah minat belajar dan berorganisasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).
Pria yang akrab disapa Ajik tersebut menegaskan, sekolah harus menjadi lingkungan yang nyaman dan aman bagi siswa untuk belajar, mengembangkan minat, serta membangun kepribadian. Upaya pencegahan radikalisme perlu berjalan seiring dengan perlindungan pelajar dari kekerasan dan perundungan agar mereka dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.
Ia juga mendorong siswa SMAN 1 Pemenang dan SMAN 1 Tanjung untuk berani keluar dari zona nyaman selama menempuh pendidikan. Menurutnya, pembentukan mental yang tangguh tidak hanya berlangsung melalui kegiatan akademik di kelas, tetapi juga melalui keterlibatan dalam organisasi, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas positif lainnya.
Pengalaman berorganisasi, misalnya, dapat menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bekerja sama, menghargai perbedaan pendapat, menyelesaikan persoalan secara damai, serta mengembangkan kepemimpinan. Nilai-nilai tersebut penting untuk membangun daya tahan terhadap pengaruh negatif sekaligus menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Penguatan karakter itu juga dikaitkan dengan upaya mendukung misi NTB Makmur Mendunia. Pemerintah daerah mendorong agar pelajar memiliki kesempatan berkembang, meraih prestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat tanpa terganggu persoalan sosial yang dapat menghambat pendidikan mereka.
Dari unsur kepolisian, perwakilan Densus 88 Antiteror NTB, Briptu Panji Ramadhan Abdilah, menjelaskan bahwa sekolah dan keluarga memiliki peran sentral dalam melindungi generasi muda dari pengaruh paham ekstrem. Pencegahan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama antara orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah.
Lingkungan keluarga menjadi ruang awal pembentukan nilai dan kebiasaan anak, sedangkan sekolah berperan memperkuat pengetahuan, karakter, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak serta pendampingan guru dapat membantu remaja menghadapi persoalan dan mengenali pengaruh negatif di sekitarnya.
Pemaparan edukatif juga disampaikan Briptu Lalu Naufal dengan pendekatan yang disesuaikan untuk siswa SMA dan SMK sederajat. Materi tidak hanya membahas bahaya terorisme, tetapi juga berbagai persoalan yang dapat mengganggu perkembangan remaja dan menghambat masa depan mereka.
Dalam kegiatan di SMAN 1 Pemenang, sosialisasi turut dihadiri Nitya, Puteri Remaja Advokasi NTB 2026. Sementara itu, SMAN 1 Tanjung menghadirkan Bintang, The Winner Putri Pariwisata KLU, serta Ihsan Tanjung, pemuda yang lolos program Aiyep atau pertukaran pemuda antarnegara dengan tujuan Australia dan dijadwalkan berangkat pada 3 November 2026.
Kehadiran para pemuda tersebut memberikan dimensi lain dalam kegiatan sosialisasi. Pelajar tidak hanya mendapatkan materi mengenai pencegahan radikalisme dan pembentukan karakter, tetapi juga berkesempatan melihat contoh anak muda yang mengembangkan diri melalui kegiatan advokasi, pariwisata, dan program pertukaran internasional. Bunga Nirmala Hidayah dan Nitya juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menghindari pernikahan dini serta menghentikan perundungan di lingkungan sekolah. Pesan tersebut menegaskan bahwa perlindungan generasi muda mencakup berbagai aspek, mulai dari keselamatan, kesehatan hubungan sosial, hingga kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!