FKUB Surabaya: Keluarga Jadi Sekolah Pertama Moderasi Beragama bagi Anak

FKUB Surabaya: Keluarga Jadi Sekolah Pertama Moderasi Beragama bagi Anak

SURABAYA – Pencegahan intoleransi dan penguatan kerukunan antarumat beragama perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Sebelum mengenal keberagaman di masyarakat, anak terlebih dahulu belajar memahami perbedaan melalui sikap, perkataan, dan kebiasaan yang mereka lihat di rumah.

Hal itu dikatakan Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Gereja Katolik Keuskupan Surabaya sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surabaya, RD. Yohanes Agus Sulistyo. Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan cara pandang anak dalam menyikapi perbedaan.

Menurut Yohanes, anak tidak hanya belajar dari nasihat yang disampaikan orang tua, tetapi juga menyerap nilai-nilai melalui perilaku yang mereka saksikan setiap hari. Karena itu, sikap menghormati orang lain yang berbeda keyakinan perlu menjadi bagian dari kehidupan keluarga, bukan sekadar materi yang diajarkan secara lisan.

“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita. Sebelum mereka mengenal dunia luar dan berinteraksi di lingkungan sosial yang heterogen, pemahaman tentang bagaimana menghargai sesama manusia yang berbeda iman harus sudah tuntas diajarkan di rumah. Apa yang dilihat dan didengar anak di dalam rumah akan menjadi pijakan perilakunya di masyarakat,” tutur Yohanes dikutip dari laman rri.co.id, Senin (20/10/2026).

Ia menjelaskan, kebiasaan sederhana di rumah dapat memengaruhi cara anak memandang kelompok yang berbeda agama. Ketika orang tua membiasakan sikap ramah kepada tetangga, menghindari ucapan yang merendahkan keyakinan lain, dan mengajak anak berdialog secara terbuka, mereka sedang membangun fondasi bagi tumbuhnya pribadi yang inklusif.

Sebaliknya, prasangka dan ujaran yang merendahkan kelompok lain di lingkungan keluarga berpotensi memengaruhi cara anak memahami keberagaman. Oleh sebab itu, orang tua perlu menyadari bahwa pendidikan toleransi tidak hanya berlangsung melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Yohanes menekankan bahwa moderasi beragama tidak cukup berhenti pada pemahaman teoritis atau doktrinal. Nilai tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menghargai tetangga yang berbeda keyakinan, menjaga hubungan baik di lingkungan tempat tinggal, serta menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa permusuhan.

Dalam masyarakat yang majemuk, sikap menghormati perbedaan juga tidak berarti seseorang harus meninggalkan keyakinan agamanya. Setiap keluarga dapat mengajarkan anak untuk memahami dan menjalankan ajaran agamanya dengan baik, sekaligus menghargai hak orang lain untuk menganut serta menjalankan keyakinannya.

Pendekatan ini penting agar anak tidak memandang perbedaan sebagai ancaman. Sebaliknya, keberagaman dapat dipahami sebagai bagian dari kehidupan bersama yang membutuhkan sikap saling menghormati, dialog, dan tanggung jawab sosial.

Tantangan tersebut semakin besar di tengah perkembangan teknologi digital. Anak kini dapat mengakses beragam informasi dan konten melalui media sosial, termasuk materi yang memuat prasangka, narasi eksklusif, dan kebencian terhadap kelompok tertentu. Informasi semacam itu dapat memengaruhi cara pandang anak, terutama apabila diterima tanpa pemahaman konteks dan kemampuan memeriksa kebenarannya.

Karena itu, menurut Yohanes, orang tua perlu meningkatkan keterlibatan dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Pendampingan tidak sebatas membatasi akses terhadap konten tertentu, tetapi juga membangun kebiasaan berdiskusi, mengajukan pertanyaan kritis, dan membedakan informasi yang dapat dipercaya dari narasi yang sengaja memancing permusuhan.

Dialog terbuka antara orang tua dan anak menjadi penting agar anak merasa nyaman menyampaikan pertanyaan atau kebingungannya ketika menjumpai informasi sensitif mengenai agama. Dengan komunikasi yang baik, keluarga dapat menjadi ruang aman bagi anak untuk memahami persoalan keberagaman tanpa harus mencari jawaban dari sumber yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Yohanes pun mengajak masyarakat Surabaya memperkuat peran keluarga sebagai fondasi kerukunan. Upaya membangun kehidupan yang harmonis, menurut pesan yang disampaikannya, perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari di rumah dan diteruskan melalui hubungan sosial yang sehat di lingkungan masyarakat.