SURABAYA – Penguatan pendidikan berbasis pesantren di perguruan tinggi Islam perlu berjalan seiring dengan penanaman nilai-nilai Pancasila dan moderasi beragama. Keduanya tidak cukup berhenti sebagai konsep dalam materi perkuliahan, tetapi harus diwujudkan melalui budaya akademik, metode pembelajaran, dan cara sivitas akademika menyikapi perbedaan.
Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan Peningkatan Kurikulum Berbasis Pesantren Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember yang berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di Hotel Rich Palace, Surabaya. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., menjadi salah satu tokoh yang menaruh perhatian pada pentingnya penguatan nilai kebangsaan dalam lingkungan pendidikan tinggi keagamaan.
Dalam konteks perguruan tinggi Islam, Pancasila memiliki relevansi tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pedoman dalam membangun kehidupan akademik yang menghargai kemanusiaan, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan.
Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam proses pendidikan sehari-hari. Kampus bukan semata-mata tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan profesional, melainkan juga ruang pembentukan karakter, pengembangan nalar kritis, serta penumbuhan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.
Dosen memegang peran strategis dalam proses tersebut. Melalui pembelajaran yang terbuka dan dialogis, dosen dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menghargai perbedaan pandangan, serta menggunakan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga menjadi bagian dari etika akademik.
Penguatan nilai kebangsaan tersebut tidak harus dipertentangkan dengan identitas keislaman kampus. Sebaliknya, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pijakan untuk membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan tradisi keilmuan Islam dan kepesantrenan.
Moderasi Beragama sebagai Fondasi Budaya Akademik
Selain Pancasila, moderasi beragama menjadi aspek penting dalam membangun kehidupan akademik yang sehat. Moderasi beragama bukan berarti melemahkan keyakinan atau mengurangi komitmen seseorang terhadap ajaran agamanya. Prinsip ini justru mendorong umat beragama untuk menjalankan keyakinan secara proporsional, menghormati perbedaan, dan menjaga hubungan sosial yang damai.
Di lingkungan perguruan tinggi, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kebiasaan berdialog, keterbukaan terhadap perspektif yang berbeda, serta penolakan terhadap sikap ekstrem yang berpotensi merusak kehidupan bersama.
Mahasiswa perlu memperoleh ruang untuk mendalami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan memahami realitas sosial yang beragam. Dengan bekal tersebut, perbedaan tidak semestinya menjadi sumber permusuhan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan memperkaya pemikiran.
Pendekatan ini juga penting dalam mencegah berkembangnya sikap intoleran di lingkungan pendidikan. Penguasaan ilmu keagamaan perlu berjalan bersama kemampuan menempatkan perbedaan secara bijaksana, sehingga pemahaman agama dapat menjadi sumber nilai kemanusiaan dan kontribusi positif bagi masyarakat.
Bagi UIN KHAS Jember, pengembangan kurikulum berbasis pesantren menjadi momentum untuk mempertemukan kekuatan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan pendidikan tinggi modern. Kurikulum tidak hanya diarahkan untuk memperdalam pengetahuan keislaman, tetapi juga membentuk lulusan yang memiliki integritas, keterbukaan intelektual, dan kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.
Integrasi tersebut memerlukan perencanaan pembelajaran yang matang. Materi perkuliahan, metode pengajaran, keteladanan dosen, dan budaya akademik perlu saling mendukung agar nilai-nilai kepesantrenan, Pancasila, dan moderasi beragama dapat diterapkan secara nyata.
Kurikulum yang kuat bukan hanya tercermin dari banyaknya materi yang dipelajari mahasiswa, melainkan juga dari kemampuan mereka menggunakan pengetahuan untuk menjawab persoalan masyarakat, membangun dialog, serta menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Kegiatan Peningkatan Kurikulum Berbasis Pesantren yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi bagian dari upaya UIN KHAS Jember memperkuat arah pengembangan pendidikan tinggi keagamaan. Pembahasan ini diharapkan memperkaya perumusan kurikulum yang tetap berakar pada tradisi pesantren, sekaligus mampu menjawab tantangan kehidupan akademik dan kebangsaan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan berbasis pesantren tidak hanya diukur dari penguasaan ilmu agama, tetapi juga dari kemampuan lulusannya menghidupkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila dan moderasi beragama dapat menjadi bagian penting dari upaya membentuk generasi terdidik yang berintegritas, terbuka terhadap perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!